Senja

Aku menamakanmu senja

Meski datang lalu hilang

Dan kembali datang

Aku tetap menunggumu pulang

 

Aku menamakanmu senja

Tak pernah tak bersahaja

Meski kau cerita suka duka

Tapi tetap saja aku suka

 

Aku menamakanmu senja

Kunanti setiap kata

Kurindu setiap sapa

Kuikat setiap rasa

 

Metro, Setelah 24 Juni 2019

 

Jangan Jadi Guru!

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya kembali tentang esensi menjadi guru.

 

Metro, 06 Maret 2019
Hari Terakhir UTS Genap 18/19

____________________________________________________________________________________________
Setiap saya dengar ada anak SMA yang memilih jurusan Pendidikan untuk kuliahnya, saya tersentak. 

“Kenapa sih mau jadi guru?”
“Kenapa sih mau-maunya jadi guru?”
“Yakin mau jadi guru?”
“Memangnya sanggup?”
“Jadi guru itu gak enak lho. Gak mudah.”

Kemudian mereka akan balik bertanya, “Emangnya kenapa?” atau “Mbak kan juga guru, tapi kok malah ngomong gitu?”

Lalu saya akan melanjutkan, “Menurut saya, hal paling sepele yang paling nggak enak sebagai guru adalah nggak diperhatiin oleh murid saat ngajar.” Continue reading

What I Feel about Being a Homeroom Teacher

Actually what I mean is “What I Feel about being Homeroom Teacher for Last Two Years”, but in my opinion, it is too long for a title. Padahal, nggak masalah juga, sih. Hehe. So, in this post I’ll tell about how is my feeling after doing my job as homeroom teacher in this last two years (Mmm, actually it have not finished yet) .

First, I wanna ask you if you still remember who is/are your homeroom teacher(s) from when you were in very first grade of elementary school, until you were in the twelfth grade? Do you still remember them? Me? Yes, I do. I assure that you still remember almost all of your homeroom teachers. And I think it should be. So please, do not forget them till the end of your life! Lebay, gak sih.

Last year, in my very first experience as a homeroom teacher, I learned too many things from my students. I learned how to become a sister for thirty three girls. I learned how to hold their problems as teenager. It was very adorable and annoying at once, you know? Haha. I did not only learn how to become both their teacher and friend, become their first person to be looked for to show Continue reading

Ngomongin Soal Beberapa Youtuber dan Vlogger Indonesia

Netizen mana yang gak kenal Youtube di era sekarang ini. Sejak diluncurkan pada tahun 2005 oleh tiga mantan karyawan PayPal, situs Youtube telah menjadi bagian penting di dunia maya. Setiap hari, ratusan video di Youtube diunggah dan ditonton jutaan kali. Nggak heran kalau Youtube sukses menjadi platform berbagi video terbesar di dunia.

Sebagai situs berbagi video yang paling banyak digunakan, Youtube tentunya memuat berbagai konten menarik, mulai dari daily vlog, tutorial, review, informasi, musik, dan lain-lain. Kamu termasuk penikmat Youtube-kah? Hayoo, channel apa aja dan siapa aja yang sering kamu tonton? Awkarin? Duhh. So, let’s talk about Youtuber or Vlogger here, tapi ini tulisannya panjang banget, kalau enggak sanggup, disanggup-sanggupin lah yaa.

Saya termasuk penikmat beberapa channel di Youtube, meskipun gak selalu nonton video update mereka. Nah, tadi siang setelah gak sengaja nonton channel Boy William featuring Ayu Ting-Ting (upps ketahuan), terus jadi pengen ngobrolin channel-channel youtuber dan vlogger yang menurut saya berisi konten bermanfaat atau menghibur.

Sebelum ke sana, coba sebutin Continue reading

[Review Novel dan Film] Dilan 1990

Dilan; dia adalah Dilanku Tahun 1990. Novel yang ditulis oleh Pidi Baiq ini pertama kali dicetak pada April 2014, tapi saya baru beli dan baca di Desember 2017. Ketinggalan banget, kan?! Pasalnya, saya ngerasa takut kecewa dengan bayangan bahwa ini adalah teenlit dengan kisah cinta anak SMA yang terkadang… Ahh… Sudahlah. Tapiiii, semenjak denger bahwa ceritanya akan difilmkan, saya jadi penasaran untuk baca novelnya yang saya beli kemudian. Waktu itu, pokoknya saya harus baca sebelum 25 Januari 2018 saat filmnya rilis dan saya tonton.

Sebelum cerita soal filmnya, saya mau kasih apresiasi untuk penulis, editor, ilustrator, dan penerbit novel Dilan 1990 (saya baca Cetakan ke-16 Edisi Revisi). Apresiasi untuk banyak hal tentunya, untuk penyampaian yang mengalir dan cerita yang ringan tapi tetap mengantar kisah dan memberi pelajaran, untuk minimnya kesalahan pengetikan (saya hanya menemukan dua kesalahan pengetikan, di halaman 123 dan 193), untuk ilustrasi (gambar) yang membantu saya memvisualisasikan para tokoh saat membaca novelnya (padahal saya lebih banyak membayangkan Iqbal, Vanesha, dan pemeran lainnya saat baca novelnya; resiko baca novel setelah akan difilmkan ya begini nih, hehe), dan untuk penerbit yang telah mengedarluaskan cerita ini. Prokprokprok! Yang terpenting, terima kasih karena telah membuat saya bernostalgia mengenang Bandung, walaupun Bandungnya di tahun 1990.

Lalu, soal filmnya. Hari Minggu, 28 Januari kemarin, setelah kehabisan tiket untuk beberapa waktu pemutaran di CGV, akhirnya saya dapat tiket di 21 di baris kedua dari depan. Yak! Baris kedua dari depan. Untungnya bioskopnya gak terlalu besar, jadi yaa, better-lah karena gak harus terlalu mendongak ke layar. Alasan utama saya nonton film ini sekedar untuk Continue reading

Opini Tentang Buku yang Difilmkan

Saya bukan tipe orang yang rajin nonton film di bioskop. Mungkin, berapa kali saya nonton film di bioskop bisa dihitung pake jari. Saking jarangnya. Salah satu alasan yang bikin saya nonton film di bioskop adalah ingin melihat visualisasi dari buku-buku favorit yang saya baca. Hal ini jadi alasan saya harus nonton sebuah film di bioskop sekaligus jadi alasan saya untuk ‘males’ nonton film di bioskop. Eits, ini khusus untuk film cerita dari buku yang difilmkan lho, ya.

Cerita pertama yang difilmkan dari buku yang saya tonton adalah Ayat-Ayat Cinta 1. Membaca novel Ayat-Ayat Cinta 1 yang luar biasa membuat saya (dan banyak penikmat novel itu) kecewa dengan realisasi ceritanya dalam bentuk film. Kenapa? Karena banyak bagian dari scene-nya yang cukup berbeda dengan di buku. Kalau kamu dulu baca novel dan juga menonton filmnya, kamu pasti tau apa yang saya maksud dan mungkin kita merasakan hal yang sama. Maka sampai hari ini, ada tiga novel favorit yang bikin saya was-was untuk nonton filmnya.

Pertama Continue reading

Resep Jamur Goreng Crispy

Maraknya berbagai jenis olahan makanan yang dijual membuat kita semakin punya alasan untuk menggunakan istilah “jajan di luar” dalam makna denotatif. Resikonya banyak, terutama soal kebersihan dan kesehatan. Di kota Metro, Lampung, ada banyak sekali ragam makanan/camilan yang dijual di sepanjang jalan utama dan pusat kota. Mulai dari camilan umum orang Indonesia, yang sudah gak asing lagi kita sebut ‘gorengan’, makanan khas lokal daerah Sumatera Selatan, pempek dan tekwan misalnya, hingga makanan khas daerah lain yang sudah diadopsi resepnya hingga sampai di kota ini, misalnya cireng dan es pisang ijo. Namun sayang, belum ada yang mencoba peruntungan untuk menjual kerak telor di sini. :-p Belum lagi, menjamurnya penjual bakso dan mie ayam, yang katanya rasa mie ayam dan bakso di kota Metro itu JUARA!

#JamurCrispy

Jamur goreng yang menggunakan campuran tepung beras dan tepung terigu sebagai baluran. credit: https://www.instagram.com/fitrhastika/

Ah, tapi kali ini saya akan bahas salah satu jajanan favorit saya di taman kota Metro, yaitu jamur goreng Continue reading