[Review Novel] Sabtu Bersama Bapak

CoverBukuSabtuBersamaBapak

Judul               : Sabtu Bersama Bapak
Penulis             : Adhitya Mulya
Penerbit           : GagasMedia
Cetakan           : Kedelapan, 2015
Tebal               : x + 278 hlm.
ISBN                : 979-780-721-5

Membaca buku ini membuat saya takut sepanjang membalik halaman per halamannya. Takut buku ini keburu habis. Hihi. Saya kenal judul buku ini sebenarnya sudah cukup lama, sejak Adhitya Mulya, penulisnya, mengenalkan kemunculan buku ini via akun Twitter pribadinya. Namun, saya baru terpikat ketika membaca preview-nya di Google Book. Halaman satu, halaman dua, tiga dan seterusnya membuat saya menolak untuk berhenti membaca.

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan …, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Seperti yang tertulis di sampul belakangnya, begitulah apa yang ada dalam novel ini.

Salah satu quotes yang cukup menarik bagi saya dari sekian banyak kalimat-kalimat bijak dalam novel ini, dan mungkin juga bagi sebagian besar pembaca, adalah dialog antara Cakra dan Ibu Itje di halaman tujuh belas, “Istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat” dan “Tapi, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat”.

Sebuah keluarga memang tidak dibangun hanya dari menikah lalu punya anak. Ada berbagai tanggung jawab besar di dalamnya. Betapa tokoh Bapak Gunawan Granida dan Ibu Itje menjadi sosok orang tua yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendidik anak-anaknya saat nanti sang Bapak telah meninggal. Maka melalui pesan-pesan terekam, sang Bapak bercerita dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada kedua putranya.

Bagi saya, membaca novel ini seperti membaca buku kepribadian, parenting, tentang cinta, juga psikologi, komplit dalam satu paket, dan dengan kalimat-kalimat yang sama sekali tidak berat. Maka di dalamnya kita bisa menemukan bagian cerita yang dikemas dengan apik oleh penulisnya sebagai terapan dari beberapa teori parenting. Dan di bagain-bagian lain, saya seolah sedang membaca buku kepribadian, kepribadian sebagai remaja, sebagai perempuan atau laki-laki dewasa, sebagai suami atau istri. Tentunya, lengkap dengan cerita cinta. Dijamin deh, baca buku ini kamu gak hanya bakal bertampang serius setuju atau terharu, tapi juga ketawa cekikikan tiba-tiba karena tingkah beberapa tokoh atau karena gaya bahasa humoris penulisnya. Hihi. Suer!

Bagi saya juga, buku ini membantu membuka dan mematangkan pemikiran terkait memantaskan diri on how being a girl, a wife, and a mom. And I’m pretty sure to say that this is one of my favorite novels. To be fair, saya merekomendasikan buku ini terutama untuk semua anak laki-laki, semua laki-laki, dan semua ayah yang ingin menjadi orang terbaik untuk ibunya, untuk istrinya, untuk anak-anaknya, untuk keluarganya, dan untuk orang lain.

Jadi, nggak ada salahnya kok, merekomendasikan buku ini untuk adik, sahabat, (calon) suami, even a father, since it’s about Sabtu Bersama Bapak.😀

A promise of myself, “Since I deserve the best, I’ll being worthy enough for it”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s