“Segala Sesuatu Mesti Ada Ilmunya”

Saya pernah mendapat sebuah balasan ‘kejutan’ dari seseorang saat saya memiliki secuil niat baik untuk menyapanya melalui sebuah akun sosial media setelah beberapa lama tidak bertegur sapa. Saya mengenal beliau saat bertemu di sebuah acara dan menjadi akrab selama acara tersebut berlangsung karena ada kesamaan latar belakang kota perantauan di antara kami. Setelah itu? Saya hanya memiliki kontak untuk berhubungan dengan beliau melalui sebuah sosial media.

Iseng, saya mengirimkan sebuah ‘pesan langsung’ tanpa berbasa-basi, perihal kabar tentunya. Saya adalah tipe orang yang hampir selalu mempertimbangkan kata pembuka saat akan memulai sesuatu, seperti menyapa seseorang. Maka, dengan niat kecil untuk sekedar tetap menjalin silaturahim, saya mengirimkan kalimat sapaan yang tidak lebih dari sebaris. Ah, manusia memang tempatnya khilaf. Bahkan niat baik sekecil itu pun kadang tak cukup untuk memulai sesuatu. Ada hal lain bernama teori, sesuatu yang tidak setiap orang memilikinya, yang mesti beriringan dengan niat, dan saat itu saya abaikan. Secara terminologis, ‘teori’ yang saya maksud di sini, biasa disebut dengan ‘ilmu’. Yap, pepatah bilang, “Segala sesuatu mesti ada ilmunya”.

Alih-alih mendapatkan balasan basa-basi layaknya orang-orang saat membalas pesan yang mereka terima dari ‘kenalan sekenanya’, saya beruntung. Saya mendapat balasan yang kalimat pertamanya justru bukan menjawab sapaan yang saya sampaikan, tapi saya diingatkan untuk mengucapkan salam. Yap, ini yang saya maksud dengan ilmu. Saya memang tidak mengucapkan salam di pesan pertama saya. Manusiawi kalau saya sempat berpikir ‘negatif’ tentang balasan semacam ini. Dan jujur saja, sampai saya menulis ini, ada sekitar belasan persen dari bagian otak saya yang masih belum bisa menerima hal positif semacam ini. Dan di sini, saya juga berpikir tentang, “Segala sesuatu ada ilmunya”. Right?🙂

Dari kejadian ini saya banyak belajar. Pertama, mulai saat itu, hal pertama yang harus saya pikirkan dengan baik saat saya akan menghubungi seseorang adalah ucapan salam terbaik seperti apa yang patut saya gunakan, bukan hanya patut mereka terima, seperti yang (mungkin) saya lakukan sebelumnya. Kedua, teori itu penting, ilmu itu penting. Penting untuk tahu bagaimana sebaiknya kita menjaga hubungan dengan seseorang yang baru saja kita kenal, mengambil keputusan bagaimana sebaiknya berkenalan, menghubungi, atau bahkan meminta bantuan seseorang, bagaimana agar tetap bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain, dan masih banyak teori ‘bagaimana’ yang lain.

Ketiga, sejujurnya setelah itu saya jadi agak mikir setiap akan menghubungi atau menyapa orang lain ‘bertipe’ sama. Ah, tapi itu manusiawi kan, ya?! Dan setiap pikiran ini datang, beruntungnya saya juga selalu diingatkan oleh sebuah kalimat dari seorang teman, yang kurang lebih intinya begini, “Yang benar-benar teman adalah mereka yang bukan hanya menyapa hari ini, tapi masih tetap menyapa di lima atau sepuluh tahun lagi”. Dan saya juga beruntung bisa membagikan hal ini di sini.

 

Kalian punya pengalaman serupa? Atau, mungkin kalian punya pendapat sendiri tentang apa yang saya tuliskan di sini? Jangan ragu untuk nulis di kolom komentar, ya!

-FH-

🙂

5 thoughts on ““Segala Sesuatu Mesti Ada Ilmunya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s