Sarjana Kok Buang Sampah Sembarangan?!

Yap, slogan yang satu ini saya tanamkan dalam diri saya untuk mencegah diri sendiri dari melakukan perbuatan-perbuatan negatif, baik sepele maupun kelas besar. Ketika memakan sebuah permen, misalnya, sampah bungkus permen yang isinya sudah dimasukkan ke dalam mulut, akan dikemanakan? Dilepas begitu saja dan membiarkan ia ditarik oleh gravitasi bumi sehingga jatuh ke atas tanah di mana pun kita sedang berada? Membuangnya di pinggir jalan, selokan, atau membiarkannya terbang dibawa angin saat dilepas melalui kaca jendela kendaraan kita?

Saya akan mencegah diri saya sendiri untuk melakukan hal-hal tersebut dengan terlebih dahulu membuka slide berslogan “Sarjana kok buang sampah sembarangan?!”, dalam pikiran saya. Ternyata, hal ini terasa sangat efektif bagi saya.😀 Dengan memasang slogan itu, saya akan berpikir dua kali ketika akan membuang sampah bungkus permen tadi di sembarang tempat, dan tentunya akan berakhir pada pilihan: mencari tempat sampah yang ada di sekitar sana atau mengantongi sampah yang dimaksud sampai menjumpai tempat sampah nantinya.

Kalimat-kalimat sederhana itu cukup sering saya gunakan. Tentunya, mereka tidak hanya berlaku untuk kasus membuang sampah sembarangan. Contoh lain, misalnya ketika sedang antre. Membudayakan diri sendiri untuk antre dalam berbagai aktivitas sehari-hari bisa juga dimulai dengan menanamkan prinsip sederhana ini, “Gue kan anak sekolahan favorit, malu dong kalo nggak bisa antre!”, “Saya kan seorang pegawai, gengsi lah nggak bisa antre!”. Kalimat-kalimat berawal gengsi tersebut akan membawa kita pada sebuah kebiasaan baik yang dimaksud jika rajin diterapkan.

Pun ketika di jalan raya, lalu lintas di kota kabupaten tempat saya tinggal ini memang tidak seramai kota-kota/ibukota kabupaten di Pulau Jawa sehingga kerap kali saya menjumpai orang-orang yang tidak peduli dengan lampu lalu-lintas yang sedang menyala merah. ‘Diterobos’, istilah kerennya. Saya pun jujur, ada kalanya ketika dalam kondisi terburu-buru, sampai pada spot berlampu lalu-lintas yang pas kebetulan berganti menjadi warna merah (Ah, sial. Hehe), rasanya ingin sekali menerebos untuk terus berjalan, apalagi jika melihat kondisi jalan raya yang sedang sepi. Dulu, waktu saya masih jadi mahasiswa, slogan “Mahasiswa kok nerobos lampu merah!” yang saya pakai cukup efektif untuk meminimalisasi keputusan menerobos lampu merah di hampir semua jenis kondisi.😀

Tapi, kok dari tadi, ‘posisi oke’ terus yang jadi alasan? Sarjana, anak sekolah, pegawai, mahasiswa? Eitts, tunggu dulu, ada cerita, nih.

Waktu itu saya berkunjung ke candi Prambanan di kota Yogyakarta. Untuk kembali ke tempat saya menginap dengan menggunakan Trans Jogja, dari kompleks candi Prambanan saya harus menuju ke terminal Prambanan terlebih dahulu. Jarak dari kompleks candi ke terminal sebetulnya tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi waktu itu saya memutuskan menggunakan becak untuk menuju ke sana. Untuk menuju ke terminal, seharusnya becak tinggal mengambil arah kanan dari gerbang kompleks candi, tetapi becak yang saya tumpangi justru mengambil arah kiri. Kenapa, ya, padahal kondisi jalan saat itu cukup memungkinkan untuk langsung mengambil arah kanan dan menyeberang. Karena heran mengapa sang tukang becak mengambil arah kiri, spontan saya bertanya, “Kok, ke arah kiri, Pak? Bukannya tinggal ambil kanan kalau mau ke terminal?”. Dengan santai bapak tukang becak menjawab, “Di sana tadi nggak boleh nyebrang, Mbak. Kalau mau nyebrang harus di tempatnya”.

Jleb! Faktor pertama, posisinya saya adalah pengunjung yang belum paham kondisi lingkungan di daerah sana. Faktor kedua, lihat kan, bahkan tukang becak pun menaati aturan untuk menyeberang pada tempat yang seharusnya.

Membuang sampah sembarangan atau tidak, rela mengantre atau tidak, berhenti atau menerobos saat lampu merah menyala, adalah sebuah pilihan, pilihan untuk menjadi orang yang berada pada aturan yang benar, tetapi bukan dengan tujuan pujian, atau pilihan untuk tetap menjadi diri kita yang bahkan tidak peduli mana yang benar dan mana yang salah.

Pilihan yang diambil itu pun sudah semestinya dijalani dengan beragam cara dan konsekuensi. Menjadi orang yang mematuhi aturan bukanlah hal yang mudah, pada masa awalnya. Namun, ketika mematuhi aturan sudah menjadi kebiasaan yang melekat erat pada diri kita, melanggarnya adalah hal tersulit yang diterima oleh mental.

Yuk dicoba, sedikit-sedikit, perlahan-lahan, dan lama-lama akan menjadi kebiasaan!

Sarjana, kok nggak patuh aturan!🙂

2 thoughts on “Sarjana Kok Buang Sampah Sembarangan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s