Suasana Baru, Siapa Takut?

Menjalani bulan Juli ini, ada satu hal yang saya ingat tentang bulan Juli tahun lalu. Yap, sekitaran bulan ini, teman saya yang namanya Winda Yulia (masih inget cerita tentang Winda, kan? Atau, buka di sini ya. :-)), lagi galau-galaunya mengambil salah satu keputusan penting dalam hidupnya. Soal profesi.

 

Ilustrasi gambar

Ngomong-ngomong tentang hal ini, setiap dari kita pasti mengalami perubahan atau perpindahan fase dan lingkungan, misalnya, dari masa SMP yang masih ABG imut gimanaa gitu ke masa SMA yang katanya masuk ke fase remaja ‘beneran’, atau dari masa menjadi mahasiswa ke masa dimana kita dituntut untuk memasuki dunia baru, dunia kerja.

Saya mengutip persis sebuah catatan di halaman Facebook teman saya, Winda. Mudah-mudahan dia mengizinkan saya berbagi catatannya di sini. Begini tulisannya:

 

nuansa baru

August 23, 2012 at 8:45pm

saya adalah orang yang tak pandai merubah cara pandang terhadap sebuah kebiasaan.perlu waktu yang cukup lama ketika saya mesti membingkai masa lalu agar tersimpan rapi di nuansa yang baru.masih teringat ketika saya mesti membingkai rapi kenangan dengan kawan terbaik selama SMA untuk bertemu dengan orang-orang baru di universitas.. butuh waktu 1 semester untuk menyadari bahwa jarak sudah tak mungkin diperkecil untuk hanya sekedar bertatap wajah.. nuansa baru itu sekejap datang dan mampu menempatkan teman-teman saya dalam balutan kenangan yang tak mungkin terlupakan.. ada kerinduan yang berbeda terhadap nuansa baru yang saya alami di universitas ketika saya berada di rumah sebagai semangat kembali menuntut ilmu.sekarang, siklus itu kembali berulang.. ada kedewasaan yang mesti ditanamkan dalam menghadapi kenyataan.. tak ada yang abadi dalam hal tatap wajah dan pertemuan ataupun jarak jasad ini.. semangat untuk segera kembali beraktivitas dengan semangat saat itu sudah memudar bahkan sudah hampir menghilang.. harus saya kuatkan nuansa baru untuk kesekian kalinya.. saya mesti membingkai rapi semua kenangan yang indah ini.. walaupun mungkin butuh waktu semoga saya mendapatkan sumber inspirasi dan semangat baru di tempat yang baru dan kegiatan yang baru..

semoga ini menjadi jalan untuk membuka masa depan, mendewasakan akan arti perpisahan, dan pembelajaran untuk membuat pertemuan dengan nuansa baru yang ku rindukan..

Nah, secerdas dan sepintar apa pun seseorang, atau bahkan sesensitif atau secuek apa pun ia, saya yakin dia pernah mengalami masa-masa berat untuk berganti fase.

Nggak usah jauh-jauh, di tempat kerja saya sekarang ini, pada awalnya saya juga mengalami hal yang sama, berat untuk mengondisikan diri agar terbiasa dengan lingkungan baru, dengan orang-orang yang beragam agama, beragam cara berbicara bahkan cara melihat (*ehh), beragam latar belakang kampus dan bidang keahlian, dan beragam sudut pandang tentunya. Semua orang baru seperti saya, sebagian besar mungkin merasakan berubahnya gaya berbicara dan bersikap dengan adanya kita di tempat baru. Oh, mungkin yang lebih tepat bukanlah ‘berubahnya’, tetapi gaya yang kita gunakan lebih kepada gaya/style yang standar dianggap sopan dan sekiranya dapat diterima sebagai permulaan. (Semoga apa yang saya siratkan barusan tersampaikan maksudnya, hihi).

Pilihan selanjutnya hanya dua: tetap pada style standar tersebut dan tidak beradaptasi atau mengenali kondisi lingkungan baru itu dan menyesuaikan ‘style‘ kita agar kita dapat diterima sekaligus menerima kondisi lingkungan baru tersebut. Konsekuensi dari pilihan pertama, kita terisolir dan mungkin kurang bisa menyatu dengan lingkungan, istilahnya tuh “nggak nyambung”. Konsekuensi pilihan kedua, menurut saya ada dua: satu, kita tenggelam karena mati-matian menyesuaikan diri agar dapat diterima dengan mengubah gaya yang sebetulnya nggak kita banget, misalnya karena lingkungan baru ternyata hobinya cari hiburan selepas pulang kerja, kita jadi sering ikut-ikutan sementara sebelumnya kita bukan tipe orang seperti itu. Nggak banget, ya. Dua, dengan penyesuaian diri yang pas, kita akan terbiasa dengan kondisi lingkungan baru dan diterima sebagai anggota bagi kelompok ‘lama’.

Gimana cara penyesuaian diri yang pas? Yang paling tau cara itu adalah diri kita sendiri. Tuntutan profesionalitas dan persaingan yang beragam di setiap tempat kerja pastinya juga perlu dipertimbangkan untuk menentukan cara terbaik menyesuaikan diri.

Dunia kerja mungkin memang nampak sulit dan tidak nyaman pada awalnya, tapi bagi mereka yang berdaya juang tinggi dan punya banyak tips pengembangan diri, serta mau mengembangkan diri, masa awal hanyalah sebuah proses pengenalan, yang selanjutnya bisa disulap jadi suasana hangat menyenangkan dengan trik-trik tertentu.

Menurut saya, hebat sekali orang-orang yang bisa membuat tempat kerjanya menjadi ‘tempat nongkrong’ yang asik, baik saat jam kerja maupun saat bukan di jam kerja. ^-^

Suasana baru? Siapa takut?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s