Telepon Terakhir dari Winda

Beberapa hari yang lalu adalah tanggal 26 Desember. 26 Desember delapan tahun yang lalu, tsunami, bencana besar melanda Aceh. Di tanggal yang sama, di provinsi yang sama, satu bulan yang lalu, sebuah kejadian menimpa seorang teman saya yang sedang mengabdi, Winda Yulia. Mau sedikit cerita…

Hari itu, 25 November 2012, pukul 07.12 pm, telepon genggam saya menderingkan lagu Payphone milik Maroon 5. Panggilan masuk. Winda Yulia, tertera di layar telepon. Ah iya, teman saya yang sedang mengikuti program SM-3T di provinsi Aceh itu sedang ke kota, jadilah ia bisa dengan mudah mengirim pesan singkat, menelepon, atau pun menggunakan jaringan internet. Pasalnya, di daerah tempatnya bertugas, sulit sekali mendapatkan sinyal.

Setiap kali ia bisa menelepon, ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon saya. Hari itu, malam itu, juga begitu. Ia menelepon. Awalnya, seperti biasa, kami saling menanyakan kabar. Yang agak lain dari biasanya, ia tidak terlalu banyak bicara. Karena saat itu saya baru saja terkena gejala cacar air, jadilah saya yang lebih banyak bercerita tentang beberapa gejalanya, termasuk flu, dan batuk yang juga sedang menyerang saat itu.

Namun, ada satu hal yang sampai saat ini pun masih dengan jelas saya ingat saat ia menelepon. Di sela-sela percakapan, ia bilang, “Pit, saya lagi nggak enak hati”. Tentu saja, berbagai kenapa dan perkiraan penyebabnya saya lontarkan untuk memancing ia bercerita mengenai penyebabnya. Tinggal di tempat yang baru, di tempat orang baru dengan adat istiadat yang baru kita tahu, bertemu dengan orang-orang baru dari beberapa daerah yang tentu saja ‘adat’-nya berbeda, wajar saja kan kalau kita mengalami sedikit hal yang bertentangan dengan kebiasaan atau kemauan kita. Tadinya, saya pikir, salah satu dari hal itulah yang menjadi penyebabnya. Terlontarlah, “Kenapa, lagi nggak suka sama sikap salah seorang di sana, ya?”. Sayangnya, berbagai cara ‘memancing’ yang biasanya berhasil untuknya dan orang lain itu, kali ini tidak. Hehe. Saya hanya mendapatkan jawaban “Ada lah…” dengan senyum-senyum kecil yang kurang bersemangat.

Tidak lama dari itu, “Pit, udah dulu ya, aku mau belanja dulu. Nanti malem kalo belum tidur, lanjut lagi, ya”, katanya. Berakhirlah percakapan yang hanya berlangsung selama 17 menit 07 detik itu.

Besoknya, 26 November 2012, pukul 12:01:19 pm, sebuah pesan masuk.

“Ak otw tmpat tgs. Doakan slamt ya.” Winda Yulia.

Ia sedang berada di perjalanan dari kota, seperti sebelumnya saya ceritakan, menuju ke daerah tempat ia bertugas. Saya membalas seperlunya.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa telepon pada malam itu dan SMS siang itu adalah telepon dan SMS terakhir yang dikirim oleh Winda untuk saya. Dan mungkin saja, curhatannya yang satu kalimat itu adalah sebuah firasat. Masih di hari yang sama, 26 November 2012, sekitar pukul tujuh malam saya mendapat SMS dari Irma, seorang teman di Bandung, yang agak membuat bertanya-tanya, “Pit, sudah dapat kabar dari Winda?”. Lho, memangnya ada apa? Spontan saya membalas SMS itu untuk menanyakan kepastian. Setelah mendapat balasan, betapa terkejutnya saya mendapat kabar bahwa, perahu yang ditumpangi Winda tadi siang terbalik, Winda terseret arus dan sampai sekarang belum ada kabarnya. Seketika itu juga saya telepon Irma untuk mendapatkan berita lebih jelas, dan jelasnya, berita itu dari mana. Lewat SMS lama.

Lemas. Lemas sekali saya mendengar kabar itu. kabar itu didapat Irma dari Dea, teman sekelas Irma dan Winda. Dea dapat kabar dari Novi, teman kami jurusan Pendidikan Kimia UPI yang juga mengikuti program SM-3T di Aceh, tapi di daerah yang berbeda dengan Winda.

Dari berbagai informasi dan cerita yang saya sambungkan alur ceritanya, begini kronologi kejadian itu.

Winda dan rekan-rekannya yang mengikuti program SM-3T di Provinsi Aceh, mengadakan pertemuan yang dikoordinasi oleh kepala dinas di kota. Pertemuan ini baru diadakan pertama kali dan rencananya akan diadakan setiap bulan. Bulan lalu, mereka juga ke kota, tapi baru untuk merencanakan pertemuan tersebut. Setiap ke kota, mereka sekaligus berbelanja kebutuhan yang sulit didapatkan di daerah untuk keperluan mereka sebulan ke depan.

Untuk menuju ke kota, atau sebaliknya, jalur transportasi yang mereka pilih adalah melalui sungai, sungai Batu Katak namanya, sungai yang lebarnya kurang lebih 20 meter (dari cerita Winda dulu). Alat transportasi yang digunakan berupa perahu boat sederhana yang bisa ditumpangi oleh kira-kira enam sampai sepuluh orang. Hari di mana mereka menuju ke kota, saat di atas boat Winda mengirimi saya SMS sekitar jam dua belas siang, intinya ia sedang menuju ke kota, nanti sampai di kota sekitar waktu magrib. Namun, jam dua siang Winda sudah menelepon, sekitar satu jam lagi juga sampai, katanya. Jelas saya bertanya, kok bisa begitu. Arusnya lagi deras, katanya, jadi bisa cepat sampai. Arah arusnya searah dengan perjalanan mereka menuju kota.

Sekembalinya dari kota (kalau tidak salah, Kota Langsa), mereka kembali ke daerah tempat tugas masing-masing, Winda di daerah yang bernama Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh. Sebelum sampai ke tempat Winda di desa Melidi, boat yang mereka tumpangi berhenti untuk menurunkan beberapa orang yang sudah sampai di tempat tugasnya. Kemudian lanjut untuk menuju desa Melidi dengan berisi empat orang guru (3 dari UPI dan 1 dari Unimed) dan dua orang warga pengemudi boat. Namun, sebelum sampai ke sana, katanya boat tersebut menabrak sesuatu sehingga terbalik, dua orang guru (1 UPI dan 1 Unimed) sempat berpegangan pada jerigen minyak sampai ditemukan dan selamat. Winda terseret arus, salah seorang lagi yang bernama Geugeut yang bermaksud menolong Winda juga ikut terseret arus. Kejadian tersebut berlangsung antara pukul lima sore sampai magrib.

Sejak kejadian itu, pencarian dilakukan, tim SAR dan berbagai tim pencarian bentukan warga dikerahkan sampai beberapa hari ke depan. Di hari Kamis, kami mendapat kabar bahwa Winda ditemukan 60 km dari lokasi kejadian, tepatnya di Kabupaten Aceh Tamiang, dalam keadaan sudah tiada.

Kami berduka, Matematika UPI angkatan 2008 berduka, Jurdikmat UPI berduka, UPI berduka, Indonesia pun selayaknya berduka. Kami kehilangan seorang cerdas yang memilih mengabdikan dirinya untuk mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal, ketimbang pekerjaan mengajarnya pada waktu itu.

Kami memang kehilangan raganya, pedih rasanya, tapi kami tidak mau kehilangan juga semangat pengabdiannya. Namun, perjuangan itu harus diteruskan, perjuangan memajukan pendidikan Indonesia.

Berbagai cerita lain akan saya bagikan di postingan selanjutnya. Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan informasi, seperti nama daerah, data angka, dsb.

2 thoughts on “Telepon Terakhir dari Winda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s