Satu Momen di 17 Oktober

Tujuh belas Oktober dua ribu dua belas. Siapa di antara ‘kami’ yang tidak menanti-nanti hari itu, hari di mana kami diresmikan sebagai sarjana, sebagai lulusan pertama dari angkatan 2008. Termasuk Winda Yulia, sebagai seorang lulusan dengan IPK 3,98, ia juga pasti menantikan hari itu. Namun, keputusan besarnya untuk bergabung dengan program SM-3T sama sekali tidak mengizinkannya untuk sebentar saja berada di kampus UPI memakai toga bersama kami di hari itu. Sehari sebelumnya, ia dan dua orang teman kami sejurusan harus sudah berangkat ke tempat tugas masing-masing sehingga tidak bisa mengikuti berbagai prosesi wisuda pada hari itu. Sedih memang, tapi itulah pilihan mereka sebagai pahlawan.

Sebelum sampai ke hari H, saya ingin sedikit bercerita tentang asal muasal a shock teraphy moment yang saya alami di tanggal 17 Oktober tahun ini. Begini kurang lebihnya.

Kalo di acara wisudaan gitu kan wajar aja ya ada perwakilan wisudawan yang diminta untuk memberikan sambutan, ini saya bicara khusus di acara jurusan. Dan wajar juga kan ya kalau yang memberikan sambutan itu adalah seorang mahasiswa berprestasi, yang wuuh prestasinya bukan cuma di sini-sini aja, tapi udah kemana-mana. Singkat cerita, muncullah dua buah nama, Winda dan Sugiri, di jurdikmat siapa sih yang nggak tahu mereka berdua ini.🙂 Merekalah yang akan memberikan sambutan di acara wisudaan nanti. Namun, karena Winda nggak bisa hadir, di suatu telepon dia pernah meminta saya untuk menggantikan. Spontan saja, “Apppaaaa?!”. Ngapain saya coba, secara masih banyak yang lain di atas saya yang lebih pantes menggantikan, Reka, Dea, Chendra, misalnya. Yak kan, ya nggak sih? Tapi, Winda bilang, “Heh, ini kehormatan lho, aku minta tolong sama kamu, bukan yang lain.”

Ah, iya sih memang. Kenapa coba dia nggak minta yang lain aja. Tapi dengan segenap keyakinan saya berhasil meyakinkannya kalo saya nggak mau, dan memintanya mencari orang lain, atau paling nggak, serahin ke panitia ajalah kalo udah mentok. Berhasil. Dan sampai hari H, setidaknya sampai acara baru saja dimulai, saya masih tenang.

Begitu Sugiri di atas panggung dan memberikan sambutan, seorang panitia menghampiri saya dan berkata, “Teh, jadi kan ngasih sambutan nanti?”.

Whattt?! Jadi? Sejak kapan gue pernah meng-iya-kan, dalem hati.

“Lho, nggak kok, nggak jadi.”

“Tapi kata teh Winda, teteh. Tolong lah, teh. Bisa ya?”

“Tapi nggak nyiapin apa-apa, nih.”

“Nggak apa-apa teh, soalnya kata kaprodi mesti ada perwakilan dari wisudawatinya juga.”

“Kenapa nggak yang lain aja, masih banyak loh.”

“Teteh aja lah ya.”

Saya pernah jadi panitia kegiatan, pernah mengalami gimana rasanya jadi panitia yang barusan (Humas-nya), dan kebayang juga gimana kalo pada saat itu saya ngotot bilang nggak mau.

Alhasil, jadilah sambutan singkat yang nggak nyampe lima menit itu terlontar ke seantero parkir barat JICA, yang pasti nggak seberapa kalo dibandingkan sama sambutannya Sugiri, hehe. Tapi kata Widya, “Segitu juga pasti bikin ibu sama bapak seneng loh, yuk.” Ah, memang itu yang menghibur.

Turun dari panggung, apa coba yang terpikir oleh saya? Pengen ngejitak itu si Winda kalo dia ada di Bandung. Sayangnya, dia berada jauh di sana, dan aku di Bandung (ala Project Pop). Cek en ricek, ternyata Winda udah bilang kok ke panitia kalo dia nggak punya pengganti dan menyerahkan ke panitia. Hemmm. Dan kami ketawa ngakak tentang kejadian ini pas malemnya dia telepon. Tapi, tahu nggak sih, itu kenangan banget dari Winda walaupun kami nggak punya foto bareng pas wisuda, kenangan ini nggak akan terlupakan. T.T

Kamu tahu dari mana saya tahu dia sedih karena nggak bisa hadir di hari itu?

Ini surat yang Winda tulis dan saya dikasih kesempatan untuk membacanya.

Semoga menginspirasi banyak orang juga.

Hari ini, Rabu, 24 Oktober 2012, terasa sekali hari itu aku tinggalkan. Hari itu adalah momen yang ditunggu setiap orang, termasuk aku dan keluargaku. Indah dibayangkan, akan selalu dikenang. Putusanku merubah semua harap akan hari itu, sehari sebelum hari itu datang, aku meninggalkan semua kesempatan yang aku bangun. Tetapi apa daya, semua adalah keputusan yang tak bisa dibatalkan. Dalam perjalanan menuju Aceh hanya senyum orang-orang yang mengharapkan hari itu akan datang yang aku lukiskan dalam bayang malam yang menghantar kepergian kami menuju bandara.

Hari rabu itu, 17 Oktober 2012, aku tertahan di Kota Langsa untuk menunggu surutnya air hendak pergi ke tempat tugas. Hari itu, semua orang hendak berbahagia menumpahkan kebahagian dan segenap usaha yang telah mereka lakukan. Aku hanya sejenak berpikir, menoreh keluh dan meneteskan air mata semu tanda ketidakmampuanku dalam bertindak. Berkaca air mata, namun tak mampu ku keluarkan, hanya hati yang tertoreh sakit mengingat tak mampu mengulang momen itu dalam bentuk apapun.

Semua keluh memuncak pada hari itu, semuanya menggunung berpuncak keharuan. Satu yang kuharap, semoga apa yang aku raih walau tak ada di tempat itu, semoga aku mampu memenuhi harapan orang tua dan orang yang mengasihiku tanpa batas.

Masih banyak hal yang begitu menguras mentalku dalam bertindak, berpikir, dan berprilaku. Akan ku kisahkan padamu, walau kau tak mau sekiranya ada ruang hati yang ku regangkan dengan sedikit bertutur padamu.

Nanti akan saya ceritakan cerita lainnya padamu, ya, tentangnya dan tentang inspirasi yang mengiringinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s