Tadi Siang Kemana Aja – [FF2in1 #2]

Masih ingat kan cerita saya tentang lomba FF2in1 di posting-an saya sebelumnya? Kali ini saya post cerita kedua yang saya buat. Temanya dari lagu Mantan Kekasih milik grup band Sheila on 7. Inti ceritanya tentang seseorang yang diminta mantan pacarnya untuk balikan lagi setelah mereka putus, tapi tentu saja nggak diterima mengingat bagaimana dulu sang mantan ‘menghancurkannya’. Ceilaah. Sebetulnya, saya agak kurang suka menulis cerita tentang ‘beginian’ kalau nggak ada ‘tujuan’ tertentu. Karena itu, setelah baca lirik lagunya, saya kehabisan akal untuk inti dan jalan cerita. Belum lagi, saya masih harus membaca info berulang berulang kali mengenai berhubungan atau tidaknya dengan cerita yang pertama. Alhasil, berlalulah waktu hingga menunjukkan pukul 21:45 WIB.
Setelah bergulat dengan waktu, tuts keyboard, dan memori yang pernah direkam oleh otak saya, jadilah beberapa paragraf kecil yang juga saya post, tetapi bukan di sini, sekitar pukul dua puluh dua lebih tiga atau empat menit.

Pesan singkat itu memintaku untuk datang ke sebuah kafe dimana kami dulu memang sering bertemu. Maka, saat kemarin kita bertemu lagi, aku hanya memenuhi permintaan dalam pesan itu tanpa perasaan mengharapkan apa-apa. Kulihat dengan jelas wajah tulus, atau sengaja kamu buat tulus, itu mengajakku kembali ke sebuah hubungan yang bagiku tidak jelas apa sebenarnya peranku di sana.
***
Kata orang, “Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kamu inginkan, tetapi Ia memberikan apa yang kamu butuhkan”. Selama predikat ‘pacar’ itu disandangkan untukku, sadarkah kamu bahwa tidak pernah ada kata panggilan yang kamu selipkan di awal atau di akhir sapaanmu, percakapan kita, atau isi pesan singkat yang kamu kirimkan? Ini selalu, “Tadi siang kemana aja?”, “Nanti sore jalan bareng, nggak?”, padahal kenapa tidak dengan, “Tadi siang kemana aja, Re?”. Apa sulit menambahkan dua buah huruf itu sebagai sapaan untukku?
Aku mungkin bukan teman atau sekaligus pacar yang sempurna untukmu, tapi kalau kamu ‘menghilang’ sehari, dua, atau tiga hari, apa pernah kamu berpikir tentang bagaimana aku harus mulai mencari atau menyapamu? Namun, kalau sehari saja aku ‘menghilang’ dari pandanganmu, dari timeline social media-mu, atau dari daftar pesan masuk di ponselmu, malamnya dengan sinis kamu akan berkata, “Tadi kemana? Ngilang gitu aja”. Aku tahu persis, hal seperti ini hanya berlaku untukku, tapi tidak untuk orang lain.
Maka ketika pertengakaran itu mulai sering terjadi, aku heran kenapa kamu tidak juga mengucapkan kata “putus”. Kenapa bukan aku saja? Oh, aku tak pernah berniat menjadi pemutus sebuah hubungan, tapi kalau kamu yang mengakhiri, kenapa nggak. Karena itu, mulai kini, aku lebih suka menganggapmu biasa atau kalu perlu tak ada, meski tanpa kata “putus” sebagai perantaranya.

Kalau boleh dibilang, cerita ini terinspirasi dari pengalaman seseorang yang selama empat tahun terakhir berada satu atap dengan saya. Tapi bukan berarti sama persis, saya modifikasi di bagian non-inti, karena yang saya ambil adalah intinya.
Gimana menurut kamu?🙂
Sayangnya, link cerita ini saya kirim ke panitia sekian detik setelah mereka mengumumkan close time. Oh, My… Hahaha. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s