Childhood Friend

Waktu di sekolah dasar dulu, saya punya teman kecil, kalau kata orang-orang yang makan keju di negeri sana istilahnya childhood friend, hehe. Saya dan dia memang sudah satu kelas sejak kelas satu SD, tapi kami baru mulai akrab berteman saat kami duduk di bangku kelas tiga, lebih lagi di kelas enam.
Sewaktu masa sekolah dasar itu berakhir, pastinya kami harus melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya. Sebelum memasuki masa ‘putih-biru’ itu, ada semacam tes seleksi masuk SMP yang oleh pihak pemerintah mulai diberlakukan pada tahun kami saat itu. Singkat cerita, saya diterima di sebuah sekolah negeri terfavorit di kota tempat saya lahir ini, tapi sayangnya hal yang sama tidak dialami oleh teman kesayangan saya itu. Ia diterima di sekolah pilihan keduanya, sekolah yang berada tepat berhadapan dengan sekolah saya nantinya. Benar-benar tepat berhadapan, bahkan pintu gerbangnya pun lurus berhadapan seolah sedang bercermin.
Siapa yang tidak sedih kalau menjadi teman kecil saya itu. Jadilah seharian itu saya bertengger di rumahnya sekedar untuk menemaninya menonton Harry Potter yang digilainya dan menghiburnya yang menangis saja semenjak pulang dari melihat pengumuman tadi paginya. Bermacam alasan sudah kami, saya, ayah saya, ayahnya, dan ibunya, ungkapkan untuk menghibur. Mulai dari, “Kan cuma depan-depanan lho, masih bisa ketemu kalau istirahat atau pulang sekolah”, “Masih bisa main bareng, kok. Nanti Pipit disuruh ke rumah juga kalau hari Minggu”, dan bla-bla-bla lainnya. Akhirnya lumayan juga untuk sedikit menghibur kekecewaannya.
Namun, ternyata benar saja. Sampai sekarang saja saya masih mencari waktu pasti sejak kapan saya dan dia mulai jarang berkomunikasi, walaupun sekolah kami yang hanya dipisahkan oleh jalan raya itu tidak berada lebih dari lima meter jaraknya. Sayangnya juga, selama masa sekolah menengah pertama itu saya tidak memiliki ponsel pribadi (Huhu). Jadilah komunikasi hanya terjadi kalau kami bertemu sepintas lalu, di mana pun itu.
Berlanjut ke masa ‘putih abu-abu’. Saya melanjutkan SMA masih di kota ini, tapi sayangnya dia melanjutkan sekolah ke kota tempat ia dan keluarganya mudik, Yogyakarta. Bertambah sulitlah pertemuan itu dimungkinkan, dan entah mengapa kami jarang juga berhubungan via ponsel padahal sudah sama-sama punya. Heuheu.
Nah, ini bagian yang agak saya buat melankolis. Di zaman canggih seperti sekarang, siapa yang tidak kenal jejaring sosial berslogan “helps you connect and share with the people in your life”. Yap, Facebook. Saya dipertemukan lagi dengan teman saya itu via Facebook (makasih ya buat Mark Zuckerberg si empunya ‘buku muka’, uhhukk). Sedihnya, beberapa kali saya senggol dengan comment atau posting-an di wall-nya, tapi kurang terlalu direspon. Apa dia lupa nama saya? Oh, maaf. Saya bukan termasuk ‘fesbukers’ alay yang mengubah namanya di facebook menjadi ‘namaterserahguweyangselaludigantiganti’ sampe dia mungkin nggak lagi mengenali nama saya. Jadi, intinya dia nggak mungkin nggak kenal nama facebook saya. Haha, tragic.
Lucunya, saya baru menyadari ini lho, beberapa waktu yang lalu, di bagian dalam pintu lemari pakaian di kamar saya, saya temukan ini:

Hihihi.
Entah sejak kapan itu terpampang di sana bahkan saya sendiri sudah lupa. Tapi sampai sekarang masih ada dan saya belum berniat menghapusnya. Hehehe.

Hei, teman, apa kabar kamu di sana? Masih ingatkah dengan aku? Walaupun tak lagi seperti dulu, aku masih selalu berharap untuk menjadi teman terbaikmu. Walaupun tak lagi seperti dulu, ketika nanti kita bertemu lagi, aku masih berharap dipanggil teman olehmu dan mendapat salah satu senyum terbaikmu.
Untuk temanku.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s