‘DIKONTRAKKAN’

Saya termasuk ke dalam golongan mahasiswa yang kata orang setiap hari ‘bergulat’ dengan rumus dan angka. Ya, matematika. Matematika adalah bidang keilmuan yang saya tekuni selama empat tahun tarakhir semenjak saya dinobatkan sebagai mahasiswa. Walaupun saya ‘orang’ matematika, bukan berarti saya penggila matematika dan menjaga jarak dengan bidang keilmuan lain, misalnya bahasa. Jarang orang yang tahu kalau ‘salah dua’ pelajaran favorit saya waktu SMA dan SMP adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Hahaha. Bahasa Indonesia? Iya, lho. Saya suka kok belajar bahasa Indonesia, belajar tentang EYD, puisi, dan lainnya, tapi paling nggak suka disuruh baca puisi (-_-“).
Ngomong-ngomong soal bahasa Indonesia, saya ingin membahas tentang salah satu aturan dalam EYD alias Ejaan Yang Disempurnakan. Pasalnya, di sekitar tempat tinggal saya di rantauan, seringkali saya jumpai tempelan-tempelan pengumuman tentang penyewaan kontrakan yang salah penulisannya. Di bawah ini ada beberapa gambar yang saya ambil sepintas lalu kalau lewat di dekat dinding atau daerah yang memasang pengumuman sejenis itu.
Bisakah kamu menyebutkan persamaan dan perbedaan yang ada pada gambar-gambar tersebut?
Kita mulai dari persamaannya. Yap. Kesemua pengumuman yang ditempelkan tersebut sama-sama mengumumkan tentang suatu ruang atau rumah yang akan disewakan atau dijual oleh pemiliknya. Kita bisa menangkap maksudnya dari apa yang mereka tuliskan, kan?!
Perbedaannya? Terletak pada penulisan kata turunan yang memiliki kata dasar “kontrak” atau “jual”. Mana yang salah, mana yang benar? Salah semua atau benar semua?
Dalam bahasa Indonesia, hampir semua dari kita pasti pernah belajar tentang imbuhan. Ya, imbuhan terdiri atas awalan, sisipan, dan akhiran. Orang yang memasang pengumuman itu pasti bermaksud untuk mengontrakkan atau menjual rumah atau ruang-ruang miliknya. Penggunaan kata yang benar adalah: DIKONTRAKKAN atau DIJUAL.
Kita bahas dulu penggunaan kata “di”. Masih inget, nggak?! Hehe. Yap, penggunaan kata “di” ada dua macam, “di” sebagai imbuhan (awalan) dan “di” sebagai kata depan. Apa bedanya? Sebagai imbuhan, “di” digunakan serangkai dengan kata KONTRAK sebagai kata dasarnya. Begitu juga untuk kata dasar lain, misalnya “pukul”, diberi awalan di- menjadi DIPUKUL, bukan DI PUKUL. Yang kedua, “di” sebagai kata depan. Sebagai kata depan, “di”, “ke”, dan “dari” ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti “kepada” dan “daripada”, contohnya adalah “di pasar”, “di tengah kerumunan”, dan lainnya. Begitu pula dengan penggunaan akhiran “-kan” juga ditulis serangkai dengan kata KONTRAK sehingga akhirnya kita menyebutnya dengan “DIKONTRAKKAN” atau “DIJUAL”.
Mengapa kita tidak menggunakan akhiran “-an” pada kata KONTRAK, tetapi malah akhiran”-kan”? Penggunaan akhiran “-an” pada sebuah kata dasar akan membentuk sebuah kata benda, misalnya “selip-an” (sesuatu yang diselipkan, KBBI), sedangkan penggunaan akhiran “-kan” akan membentuk kata kerja pasif atau aktif (jika digabung dengan awalan di depan kata dasar, misalnya “me-lepas-kan” dan “di-selip-kan”) dan kata kerja perintah (jika hanya digunakan dengan kata dasarnya, misalnya “lepas-kan”). Nah, karena tujuannya adalah untuk membuat kata kerja, maka kita menggunakan akhiran “-kan”, bukan “-an”.
Ternyata, dari sekian gambar yang saya ambil, ada juga lho yang benar penulisannya.
Berikut ini adalah beberapa penggunaan kata dasar KONTRAK dipadankan dengan “di”, “-an”, dan “-kan” yang BENAR:
1. kontrakan (kata benda) = 1 yang dikontrak atau disewa (tt rumah dsb) 2 hasil mengontrak
Contoh: Karena belum mampu membeli rumah sendiri, mereka tinggal di sebuah kontrakan di pinggir kecamatan.
2. di kontrakan
Contoh: Pasangan muda itu meninggalkan bayi berusia dua minggu yang baru saja lahir di kontrakan yang selama ini mereka tempati.
3. dikontrak
Contoh: Rumah besar di samping rumah kami dikontrak oleh seorang jutawan yang baru pindah dari pulau Jawa.
4. kontrakkan
Contoh: Kontrakkan saja ruko itu, kita butuh uang dengan cepat!
5. “dikontrakkan”
DIKONTRAKKAN dua buah rumah di Jalan …
Hubungi 081xxxxxxx

Nah, apa sekarang sudah lebih paham?
Memang, kebakuan aturan dalam bahasa seharusnya tidak menjadi hambatan bagi kita dalam berkomunikasi. Toh, kalau kita paham dengan apa yang dimaksud dalam pengumuman-pengumuman itu, bukankah tidak masalah? Namun, jika kita tahu dan mengerti mana yang salah dan yang benar, kenapa tidak menggunakan yang benar dan membiasakannya?

Note: CMIIW, hehe!

Daftar Pustaka:
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Foto: Dokumen Pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s