Pernahkah Kamu Sedikit Bersimpati tentang Hal-hal Seperti Ini?

Di Sabtu pagi yang cukup cerah waktu itu (22 Oktober 2011), berjalan dari kostan menuju kompleks masjid Daarut Tauhiid, saya berpapasan dengan seorang lelaki paruh baya yang mendorong sebuah gerobak menuju arah yang sama dengan yang saya tuju. Karena si Bapak dan gerobaknya berjalan lebih depan maka mata saya ‘terpaksa’ memperhatikan si Bapak dan gerobaknya. Buah-buahan yang disusun tidak beraturan di sebuah wadah terbuat dari kaca membuat saya berpikir tentang dagangan macam apa yang akan dijajakan oleh bapak ini dengan gerobaknya yang sudah tak lagi ‘cling’ itu.
Mendorong gerobak sendirian dari rumah menuju tempatnya berjualan, mungkin adalah hal yang rutin dilakukan olehnya setiap hari. Sendirian. Kalau melihatnya, siapa yang mau berpikir tentang apa yang bapak ini lakukan sebelum ia berada di jalan ini sambil mendorong gerobak, berapa banyak uang yang ingin didapatkannya hari ini untuk dijadikan modal berjualan kembali, untuk membeli keperluan rumah tangga, untuk memberi makan anak dan istrinya hari ini, atau untuk membayar uang sekolah anaknya yang entah sudah ditunggak berapa lama sampai hari ini?
Satu lagi, coba lihat foto ini. Apa yang terlintas di benakmu saat melihat foto tersebut? Pemuda karang taruna yang sedang bekerja bakti membersihkan lingkungan? Membuang sampah di selokan agar tidak membuatnya banjir ketika hujan? Bukan. Gambar itu saya ambil di sebuah gang yang tidak jauh dari kostan yang saya tempati. Siapa yang ada di sana? Seorang pemuda yang umurnya kira-kira berkepala dua, sedang melakukan sesuatu yang menurut saya itu adalah mata pencahariannya. Bahkan saya pun tidak tahu apa nama ‘keren’ pekerjaannya itu. Ya, memungut besi-besi bekas yang (ada di selokan) adalah perkerjaan yang sedang dilakukan pemuda dalam foto itu. Jujur, baru di tempat ini saya menemukan ada perkerjaan macam ini, atau kata lainnya, ada orang yang melakukan pekerjaan seperti ini. Baru kali ini.
Hari ini adalah kedua kalinya saya menyaksikan pemandangan ini. Yang pertama kali adalah beberapa hari sebelumnya, tapi yang saya lihat adalah orang yang sama, hanya di tempat yang berbeda. Yang pertama, saya melihat orang ini melakukan hal yang sama di selokan sekitaran kampus. Yang kedua, adalah hari ini. Ketika saya perhatikan, yang diambil olehnya memang adalah besi-besi seperti paku bekas yang ada di selokan. Itulah kenapa saya menyebut pekerjaannya demikian. Peralatan yang dibawanya adalah sejenis alat penyedot kloset dan karung berisi besi-besi hasil kumpulannya. Apa yang dilakukan oleh laki-laki ini mungkin tujuannya tidak jauh berbeda dengan bapak penjual rujak tadi. Dengan usia yang jauh lebih muda, laki-laki ini terlihat tidak bermasalah dengan pekerjaan yang digelutinya itu. Masuk ke dalam selokan, mengobok-obok dasar selokan, berpindah dari selokan yang satu ke selokan yang lain, hal-hal itu tidak membuatnya merasa malu dengan apa yang ia lakukan. Bahkan, ia bersikap seolah-olah tidak ada orang yang melihatnya sedang melakukan pekerjaan itu. Tidakkah kamu membayangkan bagaimana jika saat itu ia terpeleset, terluka karena pecahan beling, menderita diare karena ‘bermain’ di tepat yang penuh kuman itu, atau bahkan cacingan? Namun, itu pekerjaannya dan ia harus melakukannya untuk tujuannya sendiri.
Di kota yang sama dengan mereka, saya sekolah, saya belajar. Memang, sekolah saya saat ini masih ditanggung penuh oleh orang tua. Bedanya, orang tua saya tidak harus berjualan keliling atau memungut besi seperti itu untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari atau pun untuk membiayai sekolah saya dan adik-adik saya. (Mungkin begitu juga dengan beberapa teman-teman saya, dan kamu). Coba kita bayangkan jika yang sedang mendorong gerobak atau yang sedang memungut besi itu adalah orang yang kita kenal, saudara kita, atau bahkan orang tua kita! Bagaimana rasanya? Pasti banyak jawaban, “Biasa aja”, “Sediiihh”, “Nggak mungkin laah!”, “Saya pasti bisa survive juga, toh mereka juga bisa”. Apa pun yang kita rasakan dengan bayangan itu, mudah-mudahan ada lebih banyak rasa syukur dibandingkan dengan kufur, sombong, dan anggapan “tidak mungkin”. Tidak ada salahnya kita bersyukur dengan semua kemudahan, walaupun tampaknya sepele, yang diberikan oleh Allah ini, juga mendoakan orang lain untuk kehidupannya yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s