Harus tahu TEORI belajar, dong!

Kegiatan belajar mengajar di kelas itu bukan suatu hal sederhana dan dilaksanakan tanpa teori, alias ‘asal jalan’. Sekarang saya jadi kesel sendiri kalau ada yang bilang jadi GURU itu GAMPANG. Bukan maksudnya membuat sulit atau tidak setuju dengan orang yang optimis dengan itu, tapi toh kenyataannya memang TIDAK MUDAH. Semua yang dilakukan di dalam kelas itu HARUS punya DASAR, kata Profesor Didi Suryadi.
Contoh, kadang untuk memulai suatu pelajaran, guru memberikan sebuah contoh masalah atau fenomena untuk mengenalkan sesuatu terkait pelajaran yang akan disampaikannya pada pertemuan kali itu. Kemudian sesuai skenario yang dibuatnya, nanti guru akan membawa siswa-siswanya melalui sebuah generalisasi yang kemudian (insyaAllah) akan lebih mudah diserap oleh siswa. Apa teorinya?
Piaget mengatakan bahwa saat akan atau sebelum belajar, seseorang mengalami suatu keseimbangan sehingga untuk memulai belajar, “keseimbangan” itu harus diganggu dengan adanya problem. Tujuannya untuk menciptakan ketidakseimbangan. Nah, kalau ditanya, kenapa pakai ‘problem’?, ya dari teori Piaget itulah jawabannya.
Contoh lain, jika menggunakan metode berkelompok atau kooperatif.¬ Mana yang lebih baik, siswa mencoba sendiri terlebih dahulu atau langsung diberitahu? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab “mencoba sendiri dulu”. Ya, tentu saja dengan menemukan sendiri pelajaran akan menjadi lebih bermakna. Terus, gimana kalau tidak berhasil menemukan sendiri? Di situlah perlunya kerja kelompok. Yang ini didasarkan pada pendapat Vigotsky bahwa individu perlu mencoba atau memberikan pengalaman pada dirinya sendiri, baru kemudian berinteraksi dengan orang lain.
Apa masalahnya? Siswa menerima materi pelajaran di kelas dengan waktu serap yang berbeda-beda. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada siswa yang belum mengerti sama sekali apa yang dijelaskan oleh gurunya pada saat itu. Itu bukan perihal murid-murid ada YANG PINTAR dan ada YANG BODOH, karena sebenarnya tidak ada murid yang BODOH, karena mereka semua berpotensi. Tidak ada siswa yang tidak berpotensi, hanya saja potensi mereka itu berbeda-beda.
Yang terakhir, kenapa ada teori? Pertama, karena teori dikembangkan oleh riset. Yang kedua, kita belum punya teori sendiri, karena itu kita pakai teori orang lain (yang diyakini sudah mempunyai dasar).
Jadi, harus tahu teori belajar, dong!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s