@21

Akhirnya, usia 21 ini terlihat juga. Dan aku sampai di anak tangga paling bawah, untuk meneruskan lagi ke mozaik-mozaik selanjutnya. Allah memang tahu, sangat tahu tentang semua yang Ia ciptakan. Tak terkecuali aku, sesosok makhluknya yang hanya bisa mengeluh dan berharap dalam hati dan mencoba untuk mengeluarkan saat keinginanku rasanya tak bisa Ia penuhi pada waktu itu. Padahal, nikmat lain yang Ia berikan, harusnya membuatku jauh lebih malu untuk melakukan itu. Karena bukan itu yang seharusnya aku lakukan. Karena bukan itu yang seharusnya aku tunjukkan.
Surat Ar-Rahman yang aku lantunkan untuk mengawali hari ini, dan usia yang baru (lagi) ini, membuat aku sadar saat aku mengingat sebuah kalimat-Nya, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.”

Ya, Allah,
Maaf saat aku merasa Engkau memberikanku sesuatu yang tidak aku inginkan.
Maaf saat aku merasa Engkau tidak adil dalam menyayangiku, padahal hanya Engkauah Yang Maha Adil.
Maaf saat aku lebih memilih mencari orang lain saat aku ingin mengeluh dan bercerita.
Maaf saat aku merasa angkuh dengan apa yang aku dapatkan, padahal Engkaulah yang memberikan.
Maaf saat aku lebih banyak memikirkan hal lain dalam shalat yang seharusnya khusyu’ menghadap-Mu.
Maaf saat aku tak langsung bersyukur saat aku mendapatkan nikmat-Mu.
Maaf untuk banyak hal yang tidak seharusnya aku lakukan sebagai hamba-Mu.
Maaf untuk semua hal yang aku ketahui, tapi aku bangga akan itu atau tidak menjalankan-Nya sebagai perintah-Mu.
Maaf…

Ya, Allah,
Terima kasih karena Engkau selalu memberikanku sesuatu yang aku butuhkan.
Terima kasih karena Engkau sebenarnya selalu adil dalam memperlakukan hamba-Mu.
Terima kasih karena Engkau selalu ada sebagai tempat mengadu.
Terima kasih karena Engkau memaafkan dan mengingatkan saat aku merasa angkuh.
Terima kasih karena Engkau tak pernah meninggalkan dan melupakan aku.
Terima kasih untuk semua nikmat yang Engkau berikan padahal aku jarang mensyukurinya, yang tak akan pernah bisa kubayar dengan semua yang aku lakukan.
Terima kasih karena selalu mengingatkan dan memberi petunjuk saat aku salah, lupa, dan tidak tahu.
Terima kasih, yaa, Allah…

Hanya banyak harapan yang bisa kuungkapkan di hari pertama usia ke-21 ini. Hanya perubahan untuk menjadi diri yang lebih baiklah yang bisa aku lakukan. Tapi tanpa ridho dan petunjuk-Mu, aku bukanlah apa-apa.

Bandung, 22 Februari 2011

21, semoga tak sekedar angka dalam usia

(#2 post)

One thought on “@21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s