Resensi

Judul : Serpih-Serpih Salju di Anaipu
Penulis : Dyah Kalsit
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Oktober 2002
Tebal : 120 halaman
Gambar Sampul : Gambar seorang wanita dan pria berkulit putih serta seorang wanita dan pria lain berkulit hitam, dengan latar hijau

“Nuansa kehidupan. Karena itulah saya sering bosan dengan orang-orang Metropolitan yang tak pernah mengenal kata berterima kasih pada Tuhan. Menghamburkan uang tanpa mengingat yang kekurangan.” (halaman 49).
Itulah kutipan salah satu dialog tokoh dalam novel berjudul Serpih-Serpih Salju di Anaipu. Judul ini menyiratkan tentang dingin dan sejuknya kehidupan dan budaya di sebuah desa di Irian Jaya bernama Anaipu, sehingga mudah disukai dan diterima bahkan oleh orang-orang yang baru mengenalnya. Bagaimanapun, siapa yang tidak tertarik dengan turunnya serpihan salju? Seperti halnya tokoh utama dalam novel ini, yang berupaya keras untuk mempelajari dan menerima adat istiadat serta budaya masyarakat Irian Jaya, lingkungan barunya.
Mentari Andirasari, seorang wanita berdarah Jawa yang cantik dan lembut, benar-benar merasakan keutuhan sebagai manusia justru saat ia berada jauh di belahan Indonesia bagian timur. Setelah lulus dari IKIP, ia memutuskan untuk meneruskan profesi sebagai guru dan mengulurkan tangannya di tempat bernama Wamena, ibukota Kabupaten Pegunungan Jaya Wijaya, salah satu kabupaten di Irian Jaya.
Sebagai guru di Wamena, dia membaktikan diri sepenuhnya. Sebagai manusia, dia memperkaya batinnya dengan mempelajari kehidupan, budaya, dan adat istiadat masyarakat yang sederhana itu. Ia punya orang tua angkat baru disana, bahkan indahnya deretan Pegunungan Arfak dan Jaya Wijaya, padang savana, dan hutan sub-alpin pun menjadi hal baru di matanya.
Tapi semua yang dijalaninya tak seindah itu. Keluarganya yang kaya raya di Jakarta sangat menentang kepergiannya ke Irian. Mereka tidak bisa menerima jika Mentari harus hidup susah disana, sementara di Jakarta dia bisa menjadi direktur sebuah perusahaan. Di Anaipu pun begitu, ketika salah seorang muridnya meninggal bunuh diri, Mentari dituduh sebagai biang keladinya. Dia dianggap telah meracuni masyarakat agar menentang budaya dan adat setempat yang berlaku.
Tapi Mentari tetap tegar. Dia terlanjur mencintai Anaipu dan desa-desa lain di Lembah Baliem. Dia mencintai dan dicintai murid-muridnya. Dia pun terlanjur mencintai Johannes, putra kepala suku desa itu. Tapi Mentari yang juga menolak lamaran seorang dokter disana, malah mengorbankan cintanya sendiri. Ia merelakan Johannes bersama Maria, sahabatnya yang juga mencintai Johannes.
Pada akhirnya Mentari menikah dengan seorang berbangsa asing dan tetap tinggal di Irian, karena ia pun sudah menemukan kehidupan yang dicarinya.
Itulah isi dari buah karya Dyah Kalsit yang juga pernah dimuat sebagai cerita bersambung di tabloid Femina pada akhir 2001. Pembaca dihadapkan pada kenyataan hidup seorang Mentari, yang secara langsung mengenalkan pembaca pada kehidupan, adat istiadat, dan budaya orang Irian.
Di bagian awal cerita, pengarang sempat menggunakan alur mundur untuk menyingkap sedikit kisah, namun pada umumnya peristiwa demi peristiwa yang ditulis dalam novel ini diceritakan dengan alur maju. Pada bagian akhirnya pengarang kembali mengadakan pembaruan susunan peristiwa menjadi alur mundur, sehingga sempat membuat pembaca menjadi bungung tapi justru penasaran dengan akhir cerita yang ternyata meleset dari perkiraan.
Dalam novel ini, peristiwa-peristiwa yang terjadi memang menarik, namun terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga oleh pembaca sehingga terkesan mengejutkan. Dalam hal penokohan, pengarang tidak banyak menggunakan cara analitik (penguraian). Pengarang lebih mengungkap penokohan secara dramatik, yang justru terkesan mengena dan membuat pembaca lebih mengenal tokoh yang ada, misalnya melalui percakapan tokoh. Namun keputusan-keputusan yang diambil para tokoh untuk menempuh jalan hidupnya, juga sudah cukup membantu pembaca dalam menafsirkan karakter tokoh. Misalnya pada kutipan dialog berikut :
“Mama, Papa, apapun yang terjadi, Tari tetap akan berangkat ke Wamena, tekad Mentari tak akan pernah berubah. Mentari sudah besumpah akan membantu masyarakat yang butuh uluran tangan Tari. Mentari tidak minta apa-apa kecuali restu dari Mama, Papa, Mas Tito, juga Mbak Sita….” (halaman 13).
Setting tempat dalam cerita, disajikan secara harmonis dengan penjelasan deskriptif yang membuat pembaca seolah melihat sendiri tempat yang dimaksud. Adanya tempat-tempat yang berbeda membuat cerita menjadi tidak membosankan, karena biasanya pembaca merasa bosan dengan cerita yang tempatnya itu-itu saja. Namun, hal tersebut tadi tidak dipadukan dengan setting waktu yang baik pula. Pengarang tidak begitu menjelaskan waktu-waktu yang digunakan dalam menyampaikan cerita. Karena itu, pembaca menjadi bingung dan cenderung bertanya, kapan sebenarnya peristiwa ini mulai terjadi?
Dari segi bahasa, kalimat yang digunakan pun termasuk kalimat yang ringan dan komunikatif sehingga dapat dipahami dengan mudah. Namun, digunakannya beberapa kata dan istilah dari bahasa daerah Irian yang diselipkan dalam kalimat, terkadang membuat pembaca harus memahaminya lebih lanjut. Struktur bahasanya pun masih terasa asing dan kaku di mata pembaca. Contohnya pada kutipan berikut :
“[…] Ibu pu murid tra sama dengan Ibu pu murid di Jawa. Dorang su besar-besar. Ada yang su punya anak! Tra semua murid anak-anak. Maklum, Ibu, disini orang tra begitu percaya sekolah. Kitorang pu guru juga jarang.” (halaman 16).
“[…] Tadi malam ada Walhowak di kitorang pu desa.” (halaman 26).
Namun sayang, arti bahasa daerah tersebut tidak diberikan juga pada halaman yang mencakupinya, misalnya dengan catatan kaki. Untuk mengetahui artinya, pembaca perlu melihat keterangan yang disediakan pada bagian akhir buku. Cerita yang disampaikan secara komunikatif ini, ditujukan bagi berbagai kalangan, terutama remaja dan dewasa. Karena sebenarnya latar belakang pengetahuan pembaca tidak begitu mempengaruhi pemahaman tentang isi cerita. Malahan pembaca dapat menambah pengetahuan tentang budaya daerah yang belum diketahui melalui cerita ini, selain sebagai hiburan. Novel yang tidak menyajikan kata pengantar dan biografi penulisnya ini membuat pembaca tidak bisa mengenal penulis lebih dekat.
Cerita dalam novel ini mengajarkan kita agar tulus dalam pengorbanan dan pengabdian diri pada masyarakat dan orang lain. Novel ini mengandung amanat yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. “Tentang cinta kasih, perjuangan hidup, bagaimana berbagi dengan sesama manusia….” (halaman 15). Dengan segenap pesan kehidupannya, novel karya Dyah Kalsit ini ikut mengisi salah satu sisi kosong dalam dunia kesusastraan Indonesia.

^^Sebuah memori di XII IPA 2^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s