eM Pe eM

Kesendirian beberapa hari ini ternyata ada hikmahnya. Kangen juga sama aktivitas-aktivitas itu. Dari yang pergi pagi pulang magrib, kuliah rapat, kuliah rapat, sampe tugas yang rata-rata baru dikerjain dan selesai di hari H (haaah, yang ini mah parahh). Akhir-akhir ini, kerjaannya nge-date melulu sama komputer (HP-nya lagi ngambek, sih, nggak bisa diajak curhat deh). Dan inilah salah satu hasilnya.😛
Hari ini (12/9/2010), kunjungan ke sekretariat BEM HIU di PKM alias piket sekre, membuat aku berdiam di sekre sampe dua jam. Nyapu-nyapu aja sih sepuluh menit juga kelar. Tapi berhubung lagi sendiri, dan ternyata sekre itu lumayan asik buat menyendiri, jadilah momen itu dimanfaatkan sebagai ajang “be alone”. First, sepi, buat “mikir” asik tuh, apalagi kalo lagi BeTe. Second, sepi, ngerjain “job” dari temen (baca: sekalian belajar). Third, merenung. Pas! Kepikiran MPM. Oh, God. Kalau tahun kemarin banyak kakak tingkat yang bilang, “MPM membuat stres” dan aku yang waktu itu merasa “apa sih yang dipusingin?” (bahkan hampir ngerasa nggak akan mengalaminya ‘nanti’), sekarang aku tahu gimana rasanya. Sekarang aku tahu gimana rasanya “ditolak”, “kepikiran hampir setiap hari”, atau bahkan “hampir gila” gara-gara MPM. Mulai dari yang kepedean, minder, pasrah, ide diambil orang, dll. Nyesel juga nggak ngajuin dari dulu (baca: sibuk, haha). Masya Allah, bener-bener nih. Tapi, bukan “belajar” namanya kalau langsung nyerah gitu aja, bukan “usaha” namanya kalau baru sekali langsung mundur atau down (ups, bolehlah down sedikit, asal langsung up lagi, hehe).
Ayolah, siapapun yang masih puny aide, tolong “sumbangkan” sebanyak mungkin buat cadangan ngajuin lagi nih. Hei, kamu, ayo semangat!!!! Jangan mau kalah dengan kata “menyerah” itu. Edison pun mencoba untuk yang ke-1000 sekian kalinya baru ia berhasil. Apakah kamu sudah mencoba lebih dari hitungan jari sehingga berani menyerah seperti itu? Ayo coba sekali lagi. Gagal lagi? Ditolak lagi? Coba lagi. Jauhi kata “menyerah” dan “pesimis” kalau sudah berteman dengan kata “yakin”.
Ini akan jadi suatu hal yang penuh arti saat aku membacanya lagi, lima, sepuluh, atau dua puluh dua tahun lagi. Iya dong, sudah jadi apakah aku saat itu?😀

2 thoughts on “eM Pe eM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s