Pandangan Pakar Psikologi terhadap Kebebasan Berekspresi di Facebook (dari makalah PLSBT)

Menurut Ari Rahmat Riyadi, S.Pd. yang merupakan salah satu dosen psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, ekspresi adalah suatu luapan emosional dari diri seseorang. Ekspresi emosi ini dibutuhkan sejak seseorang lahir, mulai dengan menangis ketika seseorang masih bayi. Latar belakang dari ekspesi seseorang adalah untuk peluapan emosional. Hal ini menjadi penting bagi diri seseorang karena jika seseorang tidak berekspresi, maka seseorang akan tertekan. Individu berekspresi untuk pelepasan emosi atau katarsis yang artinya pelepasan emosi yang memungkinkan seseorang merasa nyaman dengan apa yang dia pikirkan dan rasakan ketika bisa dia ungkapkan baik dengan nonverbal.
Ekspresi adalah sesuatu yang dilakukan seseorang tanpa dipelajari, ini adalah sesuatu yang bersifat naluri. Jika lingkungan tidak merespon ekspresi seseorang secara positif sejak kecil maka secara otomatis itu akan menjadi punishment bagi anak yang pada akhirnya menimbulkan gejala tertekan, mengurung diri, introvert yang berdampak pada kesetabilan emosi ketika menghadapi masalah. Orang yang mengalami hal ini bisa stres tanpa dia sadari.
Menurut ilmu psikologis, ketika seseorang memiliki masalah dan mau bercerita, maka pada dasarnya setengah dari deritanya karena masalah itu telah berakhir, sisanya tinggal hal-hal yang berkaitan dengan teknis penyelesaian masalah yang sebenarnya bisa dia pikirkan sendiri setelah dia stabil karena telah mengungkapkan masalahnya. Hal ini tidak terjadi pada orang yang tidak memiliki kemampuan mengekspresikan perasaannya. Dia akan cenderung sulit berpikir jernih dan rasional karena tekanan dalam dirinya tak mampu dia utarakan.
Sementara itu, kebebasan berekspresi adalah suatu perasaan bebas untuk mengutarakan atau mengungkapkan sesuatu dengan bahasa verbal ataupun nonverbal. Namun, karena kerangka dalam segala tindakan kita adalah lingkungan yang secara normatif punya aturan-aturan tertentu, maka secara tidak langsung, seseorang tidak bisa berekspresi sebebas-bebasnya tanpa menghiraukan dampak sosial yang akan ditimbulkan. Karena setiap manusia hidup dalam lingkungan yang penuh norma, maka secara tidak langsung setiap individu pada dasarnya telah belajar bagaimana caranya supaya ekspresi-ekspresi yang dia lakukan bisa diterima dengan baik oleh lingkungan.
Facebook adalah salah satu sarana kebebasan berekspresi yang dilahirkan teknologi. Pada dasarnya, kajian pendidikan dan keilmuan teknologi dan semua yang dihasilkannya bersifat netral. Tidak ada kesalahan di dalamnya, tetapi pada penggunaannya semua bergantung pada asas manfaat dan tujuan dari pengguna teknologi itu sendiri.
Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini adalah begitu gencarnya penggunaan Facebook sebagai sarana berekspresi. Pertanyaan pun timbul, mengapa sebenarnya hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena ketergantungan manusia sudah sangat tinggi terhadap teknologi. Padahal, secara tidak disadari gaya hidup seperti ini membuat individu semakin mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya.
Seorang individu lebih menyukai berekspresi di Facebook karena di Facebook seseorang merasa lebih dihargai dan lebih bebas tanpa kekhawatiran akan penolakan orang atau respon negatif ketika dia bercerita. Pada dasarnya, Facebook menolong orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan apa yang dirasakan secara langsung. Ini membuat orang-orang yang tidak mampu mengontrol diri menjadi kebablasan dalam berekspresi di Facebook. Padahal sebenarnya kebebasan berekspresi memiliki suatu batasan sosial.
Menanggapi kasus diskorsnya mahasiswa ITB karena ulahnya menghina orang Papua di Facebook, Pak Ari mengatakan bahwa dari sudut pandang psikologi, sebenarnya mahasiswa ITB itu bebas mengekspresikan kekesalannya untuk menyembuhkan dirinya, tapi karena kita hidup tidak bebas nilai, maka seharusnya dia tahu dimana dan kepada siapa sebaiknya dia mengekspresikan kekesalannya. Di sinilah tingkat kedewasaan seseorang berpengaruh kepada tindak-tanduk seseorang. Ketika dia tidak memiliki kemampuan itu, maka bisa dikatakan dia belum dewasa. Dalam psikologi, sebenarnya ekspresi itu adalah salah satu cara mendapatkan kebahagiaan, tapi dalam batasan norma sosial tentunya.
Solusi untuk hal ini adalah adanya konselor, saat kita ingin mengekspresikan kekesalan yang begitu besar pada seseorang, datanglah kepada konselor dengan kontrak konseling dulu sehingga tidak ada masalah di masa yang akan datang. Dalam kehidupan sehari-hari konselor ini adalah teman terdekat, saudara, orang tua atau siapapun yang bisa dipercaya. Hal ini dimaksudkan agar semua cerita tentang kekesalan kita tidak sampai terdengar oleh orang yang bersangkutan. Proses bercerita kepada konselor hanyalah sebatas untuk menimbulkan perasaan lega. Hal yang salah seperti yang dilakukan oleh mahasiswa ITB adalah dia terlebih dahulu melampiaskan ekspresi kekesalannya di Facebook, padahal menurut teori medan, Facebook adalah salah satu media yang berada di zona paling luar setelah orang-orang terdekat, sebaiknya seseorang lebih memilih bercerita ke orang terdekat terlebih dahulu. Ini dimaksudkan agar bisa didapat solusi dari cerita itu, bukan malah menimbulkan masalah. Dengan bercerita langsung, maka seorang individu akan belajar mengasah kepekaan rasa. Hal inilah yang tidak didapatkan di Facebook.
Solusi agar seseorang tidak kebablasan dalam menggunakan Facebook adalah dengan assertive training (kemampuan memiliki ketegasan saat menyampaikan kebenaran tanpa merasa bersalah). Dengan ketegasan ini, dia bisa menolak keinginan dirinya yang ingin terus menggandrungi Facebook. Selain hal ini, batasan yang kuat adalah komitmen dalam diri seseorang. Maksudnya adalah komitmen untuk bisa membatasi diri, dengan membuat jadwal ber-Facebook misalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s