ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

Wahai dunia,
andai kau mau dengar ceritaku hari ini,
akan kuteriakkan apa pun bentuknya,
bagaimana pun caranya,
dan entah siapa pun yang mau mendengarnya,
aku BISA.
Ketika semua hal itu terjadi, ada satu keyakinan, setelah semuanya berlalu, berakhir, aku akan menjadi sebuah burung yang tak lagi harus diam di sarang menunggu induknya datang membawakan makan, tak lagi hanya berdecak kagum dan diam dalam semangat ketika induk itu datang dan bercerita bagaimana ia melalui hari untuk mencari makan, tak lagi hanya mengerti teori bagaimana caranya terbang dan mencoba terbang hanya di sekitar sarang, tak lagi hanya berusaha mengerti bagaimana rasanya kawanan itu terbang jauh di atas sana sementara aku tidak jauh-jauh dari sarang yang katanya nyaman, tapi aku merasakan sendiri bagaimana mencari makan, merasakan sendiri bagaimana hari-hari kulalui untuk mencari makan, mencoba sendiri bagaimana teori terbang jauh itu diterapkan, dan merasakan apa yang kawanan itu rasakan ketika terbang tinggi.
Aku BISA. Dan aku telah melakukannya.
Kalau dulu aku pernah berkata, “Aku tidak ingin terikat”, sekarang pun demikian. Apa pun yang aku alami selama ‘tahun’ ini, tetap tidak mengubah rasa hormatku pada kalimat “Aku tidak ingin terikat”. Sekarang pun demikian. Aku masih dengan keegoisan yang tinggi itu. Entahlah apakah kata “egois” itu pantas ditempatkan di situ.
Mungkin ambisi itu masih ada. Mungkin ambisi itu masih melekat. Tapi, kalau aku tetap mempertahankan ambisi itu dan pada prosesnya aku mengulang kembali ‘kesalahan’ yang sama, aku mungkin masih akan merasakan hal yang sama. Karena itu, aku pasrah pada-Nya kali ini.
Karena itu juga, aku akan berdiri sendiri sekarang, aku tidak akan berdiri pada pijakan yang telah kalian sediakan. Trauma. Aku akan mendewasakan diri ini dengan caraku sendiri. Terima kasih untuk semua kepercayaan yang pernah kalian berikan. Terima kasih untuk semua yang pernah kalian berikan. Terima kasih karena pernah ikut andil membesarkanku dalam suasana itu. Dengan itulah aku belajar, dengan itulah aku mengambil pelajaran, dan dengan itulah aku belajar tentang kedewasaan.
Kalau aku masih sanggup, kalau masih bisa, aku akan berjuang lagi, walaupun sendiri. Tapi kalau tidak, aku akan mencari lahan lain yang bisa kujadikan tempat untuk menyemai benih. Apa kalian lihat, mereka pun bisa berjuang sendiri.
Selamat ‘datang’, dunia!

The last, but (may) not (be) least, Bandung, 5 Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s