Ekspresi, Sebongkah Seni Penuh Toleransi (#3)

Seseorang yang (terbiasa) memendam perasaan akan mengalami gangguan dalam dirinya sendiri, terutama gangguan fisik. Kebiasaan memendam perasaan seperti itu perlu dihentikan Sebenarnya, seseorang bisa saja menghentikan kebiasaan memendam perasaan semacam itu. Caranya adalah ia harus berusaha merespons perasaannya itu. Maksudnya, ia harus mau mengekspresikan apa yang ia rasakan, kapan pun situasi itu terjadi. Ini tidak berarti bahwa ia harus mengungkapkan dengan cara yang agresif dan terang-terangan, tetapi ia bisa menyampaikannya dengan kata-kata langsung dan jelas dengan bijak sehingga apa yang sebenarnya ia rasakan bisa terungkap.
Karena sifatnya yang dinamis, bisa dipelajari dan lebih mudah diamati, maka para ahli dan peneliti psikologi cenderung lebih tertarik untuk mengkaji tentang emosi daripada unsur-unsur perasaan. Daniel Goleman salah seorang ahli psikologi yang banyak menggeluti tentang emosi yang kemudian melahirkan konsep Kecerdasan Emosi, yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain.
Remaja, yang sangat dekat dengan dunia yang penuh ekspresi, perlu mengetahui bentuk-bentuk peluapan ekspresi agar dapat mengontrol dan menyalurkannya dengan cara-cara bijak sesuai tingkat kematangan emosinya. Menurut salah satu sumber, bentuk-bentuk ekspresi hightened emotionality pada remaja, yaitu:
• Nervous habits (kebiasaan nervous), yaitu suatu bentuk perilaku yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengatasi nervous yang ditunjukkan dengan sikap blocking (bila ditanya hanya menjawab singkat, misalnya “ya”; “malas”, “ogah”; “tidak”; atau bahkan hanya diam sambil mengangguk/menggeleng). Dalam situasi seperti ini remaja butuh bimbingan yang bersifat empatis.
• Emotional outburst, yaitu bentuk ekspresi emosi yang berupa pelampiasan dengan membanting benda-benda yang ada di dekatnya. Kepuasan akan muncul atau emosi akan mereda setelah melakukan tindakan “hempasan” tersebut. Hal ini lebih sering terjadi pada remaja perempuan.
• Quarrelsomeness, yaitu perkelahian yang disebabkan oleh adanya ketersinggungan. Biasanya muncul dalam bentuk perkelahian massal karena adanya konformitas kelompok yang sangat kuat pada masa ini. Hal ini biasa terjadi pada remaja laki-laki.
• Finicky appetites, adalah menurunnya nafsu atau gairah, seperti nafsu makan, gairah belajar, semangat bekerja dan sebagainya.
• Moodiness, yaitu menurunnya mood (suasana hati) sehingga apa yang dilakukan serba salah, tidak menentu, canggung.
• Escape mechanism, yaitu bentuk pelarian diri dari masalah, bisa kearah positif, bisa kearah negatif, misalnya putus cinta justru menjadi malas, isolated, atau justru semakin giat belajar, aktif di organisasi, dan sebagainya.
Pola-pola emosi remaja:
1. Fear / rasa takut
Menurut Hurlock, rasa takut anak dan remaja bentuknya berbeda. Pada anak, penyebab takut adalah stimulus yang bersifat riil/nyata/terlihat, sedangkan pada remaja kadang penyebabnya adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat mata, seperti: takut gagal, dicela, beda dengan peer-group.
Macam-macam emosi takut:
o Shyness (malu)
o Embarrassment (canggung)
o Worry (khawatir)
o Anxiety (kecemasan)
2. Anger (marah)
3. Jealousy (cemburu)
4. Envy (iri hati)
5. Annoyance (jengkel)
6. Frustration
7. Grief (duka cita)
8. Curious (rasa ingin tahu)
9. Affection
10. Happiness

Dengan mengetahui bentuk-bentuk ekspresi dan pola-pola emosi pada remaja, tentu saja remaja diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai cara seperti apa yang dapat ia pilih untuk meluapkan dan mengekspresikan emosi dan perasaannya dengan bebas, tetapi sekaligus benar. Karena pentingnya mengekspresikan perasaan dan emosi yang dialami pada diri seseorang, setiap orang termasuk remaja juga perlu mengekspresikan perasaannya dengan cara-cara yang benar dan sesuai norma, yaitu dalam cara-cara yang bebas, terbuka dan tidak menimbulkan konflik. Hal ini tentu saja tidak bisa terlepas dari pengaruh bimbingan orang-orang sekitar termasuk guru. Dengan membimbing peserta didiknya mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain, bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain, serta mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas, terbuka dan tidak menimbulkan konflik, peran seorang guru menjadi penting dalam membantu peserta didiknya mencapai SKK, terutama pada aspek kematangan emosi.

DAFTAR PUSTAKA

(2005). Kematangan Emosi. [Online]. Tersedia: http://www.pikirdong.com. [8 Mei2010].

(2009). Memahami Orang Lain. [Online]. Tersedia: http://eworld-indonesia.com/new/?p=50. [8 Mei2010].

(2010). Emosi. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi. [8 Mei2010].

(2010). Konflik. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik. [8 Mei2010].

(2010). Serba-serbi PPM. [Online]. Tersedia: http://p2kp.org/pengaduandetil.asp?mid=5&catid=6&. [12 Mei2010].

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.

Sudrajat, Akhmad. (2008). Memahami Emosi Individu. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/06/09/memahami-emosi-individu/. [8 Mei 2010].

Rizky. (2009). Masa Remaja. [Online]. Tersedia: http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/masa-remaja. [8 Mei2010].

Wuryanarno, Raden Mas Panji. (2008). Menghindari KONFLIK = Memendam PERASAAN?…SALAH. [Online]. Tersedia: http://wuryanano.blogspot.com/2008/04/menghindari-konflik-memendam.html. [8 Mei 2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s