Ekspresi, Sebongkah Seni Penuh Toleransi (#2)

Dalam proses pencapaiannya, kematangan emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor fisik, pola-pola kontrol terhadap emosi, intelegensi, jenis kelamin, dan usia.
Tingkat kematangan emosi (emotional maturity) seseorang dapat ditunjukkan melalui reaksi dan kontrol emosinya yang baik dan pantas, sesuai dengan usianya. Adalah hal yang wajar bagi seorang anak kecil usia 3-5 tahun, apabila dia merasa kecewa ketika tidak dipenuhi keinginannya untuk dibelikan permen coklat atau mainan anak-anak dan kemudian mengekspresikan emosinya dengan cara menangis dan berguling-guling di lantai. Namun, akan menjadi hal yang berbeda jika hal itu terjadi pada seorang remaja atau dewasa dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka jelas dia belum menunjukkan kematangan emosinya. Emosi yang sudah matang akan selalu belajar menerima kritik, mampu menangguhkan respon-responnya, dan memiliki saluran sosial bagi energi emosinya. Kemampuan mengendalikan emosi oleh remaja, khususnya remaja SLTA, tampak misalnya ketika menghadapi konflik. Karena itu, untuk mencapai kematangan emosi mereka perlu mempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lain, bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain, serta mengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas, terbuka dan tidak menimbulkan konflik.
Menurut Taquiri (Wikipedia, 2010), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Menurut Pace & Faules (Wikipedia, 2010), konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami.
Berbagai sumber artikel banyak membahas mengenai menghindari konflik. Menghindari konflik di sini bukan berarti menghindar dari konflik yang terjadi ataupun mengabaikan masalah yang timbul, tetapi lebih kepada cara menghindari agar suatu konflik tidak terjadi. Konflik yang terjadi antarpihak tidak berarti tidak bisa diselesaikan atau dibiarkan mengalir begitu saja. Akan tetapi, seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati, maka akan lebih baik apabila suatu konflik dicegah atau dihindari agar tidak terjadi. Salah satu hal yang dapat dipelajari sebagai cara untuk menghindari konflik dengan orang lain adalah dengan memahami orang lain, yaitu berempati. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, maupun permasalahan yang menimpa mereka. Tentu saja hal ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan, tetapi hanya tidak mudah. Hal-hal mengenai konflik seperti ini tidak hanya dialami oleh para kalangan dewasa, tetapi juga mungkin dialami oleh para pemeran dalam dunia remaja, khususnya remaja di tingkat SLTA. Mungkin orang-orang sering merasa kalau mereka sudah memahami orang lain, tetapi sebenarnya mereka hanya mengetahui tanpa pernah berusaha untuk mengerti.
Selain untuk menghindari konflik, empati bisa menjadi latihan supaya lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional. Seseorang yang bisa memahami orang lain (berempati), akan lebih mudah diterima orang lain. Sikapnya yang apa adanya, tidak dibuat-buat, membuat orang lain merasa nyaman dan tidak merasa kalau dirinya sedang dinilai. Walaupun baru kenal atau di lingkungan yang cenderung baru, mereka lebih cepat diterima dan disenangi orang lain dibanding mereka yang kurang memahami perasaan orang lain. Jika bisa menyesuaikan diri dengan mudah dengan lingkungan baru, maka tentunya akan mempunyai banyak teman karena memang mempunyai teman tidak menjadi hal yang sulit bagi mereka yang empatinya tinggi. Tentu saja hal ini akan dirasakan berbeda oleh setiap orang, apalagi di dunia remaja yang juga penuh warna dan konflik.
Menghindari konflik memang suatu hal yang riskan. Namun, cara menghindari konflik bukanlah suatu hal yang monoton, universal, atau tidak mungkin dilakukan. Akan tetapi, hal itu merupakan sesuatu yang fleksibel dalam artian dapat dilakukan dengan berbagai cara, oleh berbagai orang, dan untuk berbagai manfaat. Cara-cara untuk menghindari konflik tersebut dapat dilakukan tergantung pada berbagai kondisi, misalnya seperti apa konflik yang dihadapi, siapa yang menghadapi konfliknya, berapa lama konflik sudah terjadi, dan sebagainya. Untuk remaja, tentu saja hal ini berkaitan dengan kematangan emosinya. Mereka yang sudah mencapai kematangan emosi akan lebih mudah untuk memilih dan menentukan mana hal yang lebih baik dilakukan untuk menghindari sebuah konflik.
Selain itu, hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sebuah konflik dan harus dipenuhi oleh remaja sebagai SKK adalah bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain. Pada waktu yang sama, perasaan yang dimiliki setiap orang dapat saja berbeda. Walaupun sama, cara setiap orang mengekspresikannya tentu saja berbeda. Perasaan dan emosi pada dasarnya merupakan dua konsep yang berbeda, tetapi tidak bisa dilepaskan. Perasaan selalu saja menyertai dan menjadi bagian dari emosi. Perasaan (feeling) merupakan pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh rangsangan dari eksternal maupun internal (keadaan jasmaniah) yang cenderung lebih bersifat wajar dan sederhana. Demikian pula emosi sebagai keadaan yang terangsang dari organisme, tetapi sifatnya lebih intens dan mendalam dari perasaan. Menurut Nana Syaodih Sukadinata (Sudrajat, 2008), perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat riak air atau hembusan angin sepoi-sepoi, sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak atau angin topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa diamati. Contohnya, orang merasa marah atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, dalam konteks ini, marah merupakan perasaan yang wajar, tetapi jika perasaan marahnya menjadi intens dalam bentuk angkara murka yang tidak terkendali maka perasaan marah tersebut telah beralih menjadi emosi; seorang remaja merasa sedih karena ditinggal kekasihnya, tetapi jika kesedihannya diekspresikan secara berlebihan, misalnya dengan selalu diratapi dan bermuram durja, maka rasa sedih itu sebagai bentuk emosinya.
Setiap orang memiliki pola emosional masing-masing yang berupa ciri-ciri atau karakteristik dari reaksi-reaksi perilakunya. Ada individu yang mampu menampilkan emosinya secara stabil yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengontrol emosinya secara baik dan memiliki suasana hati yang tidak terlau variatif dan fluktuatif. Sebaliknya, ada pula individu yang kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki stabilitas emosi, biasanya cenderung menunjukkan perubahan emosi yang cepat dan tidak dapat diduga-duga. Dalam hal ini, bersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lain merupakan suatu hal yang esensial dan perlu dilakukan. Apabila tidak ada orang yang bertoleran pada setiap ekspresi perasaan dirinya dan orang lain tidak terbayang seberapa sering konflik-konflik akan terjadi di antara mereka, tidak ada penghargaan atas ekspresi-ekspresi perasaan yang dilakukan, tidak ada seni dan kreasi dalam indahnya hidup bersosialisasi.

Oleh: Fitriana Hastika

Daftar Pustaka

(2005). Kematangan Emosi. [Online]. Tersedia: http://www.pikirdong.com. [8 Mei2010].

(2009). Memahami Orang Lain. [Online]. Tersedia: http://eworld-indonesia.com/new/?p=50. [8 Mei2010].

(2010). Emosi. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi. [8 Mei2010].

(2010). Konflik. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik. [8 Mei2010].

(2010). Serba-serbi PPM. [Online]. Tersedia: http://p2kp.org/pengaduandetil.asp?mid=5&catid=6&. [12 Mei2010].

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.

Sudrajat, Akhmad. (2008). Memahami Emosi Individu. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/06/09/memahami-emosi-individu/. [8 Mei 2010].

Rizky. (2009). Masa Remaja. [Online]. Tersedia: http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/masa-remaja. [8 Mei2010].

Wuryanarno, Raden Mas Panji. (2008). Menghindari KONFLIK = Memendam PERASAAN?…SALAH. [Online]. Tersedia: http://wuryanano.blogspot.com/2008/04/menghindari-konflik-memendam.html. [8 Mei 2010]

One thought on “Ekspresi, Sebongkah Seni Penuh Toleransi (#2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s