(Bukan) Puncak Histeria

Hei, hei, jangan pernah jauhkan aku dari kata ‘profesional’ itu. Aku memang sedang melamun. Aku memang sedang mencari alasan. Atau mungkin aku sedang tercengang. Namun, tenang saja, aku masih tahu pasti dimana letak kotak harta karun itu. Petanya mungkin terbalik, mungkin mengecoh, atau aku yang sulit menerjemahkannya, tapi aku masih memegangnya dengan kencang angin yang meniupnya, dengan duplikat asli yang menyainginya.

Bukankah kita adalah merpati-merpati itu? Apa kalian lupa? Atau aku yang sepertinya lupa? Tidak, aku tidak lupa. Bahkan di kakiku masih ada gulungan kertas itu. Tidak satu, bahkan beberapa. Kalau diibaratkan samudera, aku sedang terjun bebas dari tebing ini. Aku menyentuh airnya dan aku sedang tenggelam. Biarkan. Sampai aku merasakan derasnya arus, sampai aku melihat sendiri bagaimana makhluk laut-makhluk laut itu berenang dan mencari makan, sampai aku merasakan sendiri bahwa karang-karang dan tumbuhan di bawah sana memang benar-benar pantas aku lihat, karena samudera ini menjanjikan banyak hal, itu salah satunya. Dan kalian seharusnya memang tahu, kita mencari sesuatu yang sama.

Aku tidak diam. Aku sudah mendekat. Mendekat dengan cara yang aku anggap halal. Aku tidak ingin sampai menyentuh tembok itu, apalagi sampai meruntuhkannya. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di balik sana. Aku hanya ingin mendengar bisikan yang tersembunyi di baliknya.

Mengapa tidak katakan saja yang sebenarnya? Mengapa tidak ceritakan saja apa-apa yang kau rasakan, yang kalian rasakan? Bukankah sudah kubilang aku akan mendekat? Tidak perlu kukatakan kalau aku peduli, kan? Tidak perlu kutunjukkan bagaimana caraku untuk mengerti, kan? Namun, kalian tidak sadari itu. Aku mengerti, aku peduli, tapi tidak ada timbal balik antara kita, bukankah kalian hanya cukup bicara?

Aku tahu, kepompong-kepompong itu berbeda, walaupun ada beberapa yang sejenis. Persamaannya, kita sama-sama memerhatikannya, kita sama-sama melindunginya, dan akhirnya kita akan sama-sama melihat perubahannya. Tidakkah kau mau tahu metamorfosis yang terjadi di hadapanku walaupun kita sedang menyaksikan hal yang sama? Tidakkah kau tertarik untuk membantuku saat aku butuh penjelasan tentang kepompong itu? Tidakkah kau berniat menghiburku jika pada akhirnya ia tidak jadi berubah menjadi kupu-kupu? Aku selalu berharap metamorfosis itu juga terjadi padamu.

Walaupun ini bukan pertandingan, tapi aku punya cara sendiri untuk menang, dan aku punya cara sendiri untuk membuatmu kalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s