Satu momen di kampus beberapa hari yang lalu..

Karena lagi ngikutin satu momen ‘gede’ di kampus, beberapa waktu yang lalu, saya dapet pelajaran kecil, nih. Tadinya nggak akan ikutan agenda di ‘hari itu’ (berhubung besoknya ada ujian Kalkulus III), tapi yaah, ini juga kan bukan ‘main-main’, akhirnya saya dateng aja (dengan harapan Allah membantu saya juga di ujian Kalkulus III besoknya).
Berhubung itu acara gede, jadi yang berpartisipasi juga nggak cuma segerombol orang dari satu pojok kampus, tapi dari berbagai belahan jurusan yang ada di kampus, semua ada. Yang keliatannya anak organisasi ada, pokoknya organisatoris-lah, yang keliatan biasa duduk-duduk nongkrong habis kuliah juga ada, yang iseng ikutan karena ini salah satu acara gede di kampus juga ada. Itu, sih, dari omongan mereka, lho, ya.
Ternyata, eh, ternyata, nggak semua orang itu kuliah di jurusan yang mereka pengenin dari dulu, atau di jurusan yang memang mereka ahli di bidang itu, atau di jurusan yang benar-benar pas banget lah bagi mereka. Dari perbincangan yang terjadi di kelompok kami, ada yang bilang gini, “Saya kuliah di Jurusan Bahasa Jepang di UPI karena disuruh Mama.”. Eeeh, temennya yang satu bilang gini, “Karena Mamanya nyuruh dia kuliah di UPI, jadi aja Mama saya juga nyuruh kuliah di UPI.” What? Dikira kuliah itu main-main apa? Sekolah aja nggak boleh main-main, kan?!
Terus ada juga yang bilang gini, “Saya mah kuliah di UPI karena temen saya juga ngedaftarnya di UPI waktu itu.” Ckckck. (Saya malah jadi mikir gini, untung kamu keterima di UPI-nya, lah kalo nggak?? Hehee.)
Terus ada juga yang bilang gini waktu ditanya cita-citanya apa, “Saya tuh cita-citanya jadi Arsitektur.” Ehm, spontan aja lah ada salah seorang yang bilang gini, “Lah kan kamu masuk jurusan Teknik Elektro, terus kenapa bisa itu cita-citanya jadi arsitektur?”, ada juga yang nyeletuk, “Ohh, atau mau jadi arsitek rangkaian listrik ya?”
Beeeuh..
Ya gitulah. Tapi, walaupun gitu, ada juga lho yang setelah masuk di jurusannya ‘itu’ justru punya cita-cita baru dan semangat untuk menempuh pendidikannya. Ada yang bilang mau jadi dosen, mau ngelanjutin sekolah di luar negeri, dapet beasiswa ke luar negeri, pengen ikutan pertukaran pelajar (walaupun tadinya kaya’ nggak niat masuk jurusan itu). Bagus, bagus.
Semua orang itu punya jalan hidup masing-masing, apapun yang sedang kita alami sekarang, itu sudah digariskan sejak awal walaupun itu bukan harapan atau keinginan kita. Jadi, sesuatu yang sedang ataupun yang sudah terjadi tidak perlu disesalilah (walaupun terkadang hal macam ini sangat sulit teraplikasi).
Nah, sekarang berkaca pada diri, termasuk yang manakah saya? Yang salah masuk jurusan dan tersesat, yang salah masuk jurusan, tapi sadar bahwa ini tepat, atau yang justru bingung kenapa saya dulu pengen banget masuk jurusan ini? Yang menyesal atau justru bersyukur dengan yang didapat sekarang? Hmmm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s